Selasa, 26 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
IKM Tanggulangin Terus Berkembang

Manfaatkan Medsos, Ikuti Perkembangan Teknologi

25 Oktober 2018, 07: 05: 59 WIB | editor : Lambertus Hurek

PRODUK UNGGULAN: Perajin di Tanggulangin saat proses pembuatan tas.

PRODUK UNGGULAN: Perajin di Tanggulangin saat proses pembuatan tas. (VEGA DWI ARISTA/RADAR SIDOARJO)

Semangat pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Tanggulangin masih terus menyala. Meski sempat diterpa banyak rintangan, perajin masih tetap survive dengan berbagai kreativitas dan inovasinya. Perkembangan teknologi dimanfaatkan untuk memasarkan produk unggulan mereka. 

VEGA DWI ARISTA

Wartawan Radar Sidoarjo

PERAJIN tas, koper, sepatu, dompet dan ikat pinggang dari bahan kulit di Tanggulangin memang sempat moncer belasan tahun silam. Musibah lumpur pada akhir Mei 2006 menjadi cobaan berat bagi para perajin yang tersebar di Jalan Raya Kludan Kecamatan Tanggulangin itu. 

Sejak itulah, berbagai cara dilakukan perajin untuk tetap menjalankan roda usahanya. Perlahan tapi pasti, perajin mulai bisa mengembalikan image kerajinan di Tanggulangin. 

Tidak hanya berhenti di situ saja. Rintangan dari barang impor juga menjadi hadangan bagi perajin di kawasan selatan Sidoarjo ini. Barang dari Tiongkok yang murah menjadi pesaing utama bagi perajin. 

Di tengah gempuran produk luar tersebut, perajin Tanggulangin tidak menyerah. Produk mereka ternyata masih mampu bersaing untuk merebutkan pangsa pasar yang lebih luas. 

Nah, di tengah kemajuan teknologi pesat saat ini, perajin juga tidak tinggal diam. Mereka memanfaatkan media sosial (medsos) untuk branding dan marketing produk unggulan mereka. “Ya, kami memanfaatkan media sosial untuk bisa menawarkan produk yang kami buat. Barang kita bisa bersaing dengan produk terkenal di luar negeri dan daerah lain,” kata perajin tas, M Roni Yudianto. 

Sejak 2016, Roni memanfaatkan fanpage Facebook untuk berjualan produk tasnya. Di akun Facebook zummabags, dirinya menawarkan banyak pilihan jenis tas yang dijualnya. Dia rela membayar biaya untuk maintenance produknya agar dilihat oleh banyak pengguna Facebook. “Saat pameran di berbagai daerah saya langsung maintenance produk saya,” katanya. 

Melalui medsos, dia juga bisa memilih sasaran calon pembeli. Mulai dari daerah asal yang berdekatan dengan tempat pameran, usia hingga gender. “Paling banyak wanita karena produk tas kita sangat banyak disukai wanita pecinta model,” ujarnya. 

Tidak hanya Facebook, akun Instagram juga disasarnya. Bahkan, istrinya Linda Oliviani juga ikut cawe-cawe aktif meng-upload produk merek Lee Choir yang menjadi branded produk yang dijualnya. “Istri saya juga sering upload di insta story di Instagram,” kata pria 34 tahun ini. 

Dia mengaku, melalui dua akun media sosial yang dikembangkannya tersebut terbukti manjur untuk memasarkan produk-produknya. Selain pameran yang intens dilakukan di beberapa kota dan negara, dirinya memang yakin jika medsos bisa membantu kerajian Tanggulangin kembali dikenal banyak masyarakat. “Bagaimana kita memanfaatkan teknologi untuk mengingatkan masyarakat bahwa perajin Tanggulangin itu lho masih ada dan berkembang,” jelasnya. 

Dia percaya, masyarakat yang memiliki ponsel android saat ini sebanyak 90 persen memiliki medsos. Di antaranya, Facebook dan Instagram. Karena itu, cara marketing melalui medsos diyakininya menjadi salah satu magnet untuk menarik pembeli. 

Saat pameran di Surabaya, Semarang, Jakarta, Batam, Medan, Lombok, Ternate, Bali hingga Malaysia dia tak henti-hentinya memamerkan produk Tanggulangin. “Tanggulangin tidak tenggelam tetapi masih bisa berkreasi dan berinovasi,” ucapnya. 

Tas, koper, sepatu, dompet dan ikat pinggang yang dijualnya juga memiliki harga beragam. Mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta menjadi brandol dari produknya. Melalui bantuan medsos serta toko yang dimilikinya, dia mampu meraih omzet mencapai Rp 100 juta per bulan. 

  Roni mengaku, bisnis keluarganya yang dimulai sejak 1979 ini memang harus terus bisa bersaing. Saat ini kompetitor produk miliknya bukan lagi dari perajin di Tanggulangin. Namun, produk dari luar negeri. “Karena itu kualitas harus kita kejar dan bagaimana bisa memasarkan dan mengenalkan produk yang berkualitas di pasar,” ujar bapak tiga anak ini. 

Ketua Koperasi Industri Tas dan Koper (Intako) Tanggulangin Ainur Rofiq mengatakan, saat ini ada 276 anggota koperasi Intako. Dari jumlah tersebut sudah ada sekitar 70 persen yang memanfaatkan medsos untuk membantu penjualan dan pemasaran. “Memang sangat terbantu untuk bisa terus meningkatkan kerajinan di Tanggulangin,” katanya. 

Dia mengungkapkan, inovasi sudah banyak dilakukan perajin untuk bisa mengembangkan kerajinan di Tanggulangin. Termasuk desakan produk dari Tiongkok yang sudah bisa diatasi oleh perajin Tanggulangin. Harga yang terjangkau dan kualitas yang baik jadi andalan produk Tanggulangin. “Dengan adanya medsos malah bisa memasarkan produk Tanggulangin secara luas,” terangnya. 

Dia yakin, konsep wisata belanja di Tangulangin saat ini didukung dengan terus menciptakan produk unggulan. Baik itu dari bahan kulit, semi kulit hingga imitasi. Hal tersebut juga akan membantu konsep wisata edukasi industri dan wisata budaya yang saat ini terus dikembangkan. “Tanggulangin siap memberikan produk terbaik,” pungkasnya. (rek) 

(sb/vga/rek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia