Selasa, 16 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Tanamkan Islam Nusantara pada Jiwa Mahasiswa

Rabu, 26 Sep 2018 10:42 | editor : Aries Wahyudianto

Para narasumber dan mahasiswa IAIQ serius berdiskusi soal Islam Nusantara.

Para narasumber dan mahasiswa IAIQ serius berdiskusi soal Islam Nusantara. (DOK/RADAR GRESIK)

BUNGAH-Di tengah banyaknya aliran radikal yang berkembang di Indonesia, beberapa kampus mencoba menanamkan Islam Nusantara kepada mahasiswanya. Tujuannya, supaya mahasiswa kini bisa menghindari kekerasan dan memilih gerakan perdamaian dalam wadah Indonesia.

Ahli Islam Nusantara, Prof Abdul Harris  M.Ag mengatakan Islam Nusantara merupakan hasil  interaksi Islam di Indonesia. Proses implementasi antara agama dalam ruang budaya, dengan menggunakan teks-teks dan norma. “Ajaran Islamnya sama, dengan substansi   sesuai dengan realitas saat ini,” kata Harris saat kuliah umum bertajuk Sarjana Pesantren Garda Depan Pengawal Islam Nusantara di Institut Agama Islam Qomaruddin Gresik (IAIQ), kemarin.

Dikatakannya, Pancasila seperti Piagam Madinah. Lambang negara yang merupakan hasil kesepakatan sehingga membuat Indonesia maupun Arab tidak menjadi negara sekuler bukan pula khilafah. “Seringkali disalahpahami.Seolah Islam Nusantara bentuk sendiri.

Bahkan ada yang mengklaim sesat sama sekali. Sesungguhnya Islam Nusantara hanya persoalan implementasi.Bukan beda pondasi bukan pula beda asasi,” kata Rektor Universitas Islan Negeri (UIN) Malang tersebut.  Untuk itu, perlu terus menerus dipelajari. Perlu segera sosialisasi dengan perkuat usul fikih. Dengan kajian fikih dan juga kajian sosiologi.

Dengan mengedepankan dakwah dengan strategi serta materi usul fikih.

Ia memisalkan di Iraq, Syuriah, maupun Somalia yang terus mengalami konflik akibat perbedaan sesama saudara hingga serasa sangat mudah terjadi pertumpahan darah.
“Berbeda dengan di Indonesia. Kalau di sini, setiap ada konflik, langsung bisa diminimalisasi dan dilokalisasi agar tidak sampai menyebar ke daerah-daerah lain, antara lain di Jember dan Sampang yang efek konfliknya tak menyebar se-Indonesia,”

"Kami berharap mahasiswa terus melakukan kajian fikih dan sosiologi dengan mengedepankan dakwah dan strategi, ," katanya.

Islam Nusantara, kata dia, yang paling utama bukan soal definisi, tapi laku keislaman di kepulauan nusantara yang usianya panjang dan kaya tradisi.

Sementara itu, Rektor IAIQ Lukman Hakim mengatakan kuliah umum yang bentuk upaya memberikan wawasan, sekaligus mencapai misi dan menyiapkan mahasiswa yang bercendekiawan. “Untuk meraih hal tersebut, tentu harus dimulai dari moral dan kearifan lokal, yang salah satunya melalui pemahaman Islam Nusantara,”  katanya. (han)

(sb/han/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia