Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Nyaru Polisi, Minta Upeti di Lokasi Perjudian

25 September 2018, 10: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

GADUNGAN: Tersangka Andrian di Mapolrestabes Surabaya. Polisi menunjukan satu pucuk pistol airgun dan Kartu Tanda Anggota (KTA) yang dipakai tersangka

GADUNGAN: Tersangka Andrian di Mapolrestabes Surabaya. Polisi menunjukan satu pucuk pistol airgun dan Kartu Tanda Anggota (KTA) yang dipakai tersangka Andrian untuk menyaru sebagai polisi. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Memiliki pekerjaan dengan penghasilan pas-pasan membuat Andrian Soebroto, 27, mencari usaha sampingan. Hanya saja usaha mendapat penghasilan tambahan justru menyeret pria yang tinggal di Komplek Sidotopo Dipo 3/36 A, Surabaya ini ke penjara. 

Penjaga klub malam ini dibekuk lantaran menyaru sebagai polisi. Dia juga selalu membawa pistol airgun untuk menyakinkan para korbannya. Penangkapan Andrian dilakukan pada Minggu (23/9). Bermula adanya laporan dugaan polisi gadungan di sejumlah tempat perjudian. 

Setelah mendapatkan informasi itu, polisi lantas melakukan penyelidikan dan pengintaian. “Kami intai di daerah Ploso. Kami mendapati tersangka menggunakan seragam saat itu,” ungkap Kanit Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Agung Widoyoko, Senin (24/9). 

Agung mengatakan saat didatangi polisi, Andrian nampak santai dan percaya diri. Sebab aksesoris yang dikenakannya memang menyerupai polisi seperti seragam bahkan pistol airgun. Kemudian, polisi meminta Andrian untuk menunjukkan kartu tanda anggota (KTA). 

“Saat itu tersangka menunjukkan KTA Polri. Namun setelah kami cek, KTA tersebut bukanlah dirinya melainkan milik orang lain,” terangnya. 

Bukti ini membuat Ardian ditangkap. Terlebih KTP yang ditunjukkan sudah kadaluarsa. Dalam pemeriksaan, bapak dua anak ini mengaku sengaja mendatangi tempat-tempat perjudian untuk minta upeti dari bisnis perjudian. Tindakan tersangka ini tak pelak mencoreng instansi kepolisian.  

“Tersangka mengaku baru menjalankan aksinya tiga bulan terakhir. Motifnya untuk memperoleh uang dengan cara menyaru sebagai polisi,” tegasnya. 

Mantan Kanit Reskrim Polsek Wonokromo ini juga mengatakan pistol airgun tersebut dibeli Andrian dari toko jual beli online seharga Rp 2,5 juta. Sedangkan lima amunisi aktif kaliber 38 mm yang turut diamankan diperoleh dari bapaknya. 

“Kebetulan ayah tersangka adalah pensiuan polisi,” ujar Agung. 

Menurut Agung, meski hanya pistol airgun namun jenis yang dibawa Andrian bisa digunakan untuk mengisi peluru asli. Sehingga cukup bahaya. Selain airgun, polisi juga mengamankan KTP tersangka. Meski KTP itu asli namun keterangan di kolom pekerjaan dipalsukan tersangka. 

“Seharusnya itu swasta, namun diganti dengan polri,” tandasnya. 

Sementara itu, Andrian berbelit saat dimintai keterangan sejumlah media. Dia mengaku hanya iseng menyaru sebagai anggota polri. Sementara dalam kasus ini, Andrian dijerat dengan pasal berlapis yakni undang-undang darurat  pasal 1 ayat 1 UU RI nomor 12 tahun 1951 tentang kemilikan airgun dan juga amunisi. Selain itu, polisi juga menjeratnya dengan pasal 266 KUHP tentang pemberian keterangan palsu dalam buku otentik (KTP). (yua/rtn/rud)

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia