Minggu, 16 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Rupiah Anjlok Pengusaha Mebel Tertawa

16 September 2018, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Rupiah Anjlok Pengusaha Mebel Tertawa

Rupiah Anjlok Pengusaha Mebel Tertawa (Grafis: Fajar)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang anjlok hingga di level Rp 15 ribu lebih, menjadi berkah sebagian dunia usaha. Fluktuasi nilai tukar dolar AS tersebut ternyata memberi dampak positif bagi kalangan eksportir.

HERNINDA CINTIA-Wartawan Radar Surabaya

Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Nur Cahyudi mengatakan, ada empat terdampak fluktuasi nilai tukar dolar saat ini. Pertama, bagi eksportir produk dengan bahan baku impor. Mereka bisa mendapatkan untung karena sebelumnya telah berbelanja bahan baku dengan harga di bawah dolar yang saat ini. “Mereka minggu-minggu ini lumayan bisa senyum-senyum,” kata Nur Cahyudi. 

Kedua, lanjut dia adalah eksportir dengan bahan baku lokal. Menurutnya, mereka sudah pasti untung besar. Ketiga adalah pelaku usaha impor berupa bahan baku. Bahan baku yang mahal menambah biaya produksi dan meningkatkan harga produk. Keempat, pelaku usaha impor yang harus menaikkan harga baru. Dua kondisi terakhir tersebut membuat pasar menunggu, sehingga produk tidak cepat laku.

"Kalau importir bahan baku, biaya produknya naik dan produknya naik, kemudian diekspor. Ya mereka masih bisa untung lah," lanjut Nur Cahyudi.

Menurut Nur Cahyudi, saat ini, bagi pengusaha kenaikan nilai tukar dolar masih belum berdampak tinggi. Hal ini dikarenakan naiknya masih secara bertahap dan pelan. Masa waktunya belum terlihat apakah jangka panjang atau pendek. “Teman-teman masih terus melihat pergerakannya. Tentu dengan persiapan atau jurus-jurus yang sudah disiapkan,” ungkapnya.

Diakui Nur Cahyudi, pengusaha sebenarnya memerlukan kepastian nilai tukar untuk bisa mengambil langkah usaha. Selain itu juga jangan terlalu tinggi maupun rendah patokan nilai tukarnya. "Kami perlu yang stabil untuk bisa mengambil langkah bisnis. Kalau fluktuasi-nya naik turun dengan drastis akan berat," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan menyebut, ekspor provinsi paling timur di Pulau Jawa ini hampir mencapai 90 persen dari sektor industri manufaktur. Dimana sekitar 70 persen bahan bakunya masih impor.

"Kalau dari industri-industri yang bahan bakunya dalam negeri, itu saya kira ya artinya relatif lebih baik lah, gitu. Industri-industri yang bahan baku dalam negeri mungkin furnitur, itu kita kan kayu, rotan, kan punya. Itu cenderung membaik karena tingginya nilai tukar dolar ini. Lalu ikan, udang, produk-produk pertanian, nah itu ketergantungan impornya kan nggak terlalu tinggi," jelasnya.

Berbeda dengan sepatu, tekstil, garmen, yang sebagian bahan bakunya masih impor. Barang-barang elektronik itu juga masih impor. 

"Baja kita masih impor. Jadi, saya kira pemerintah juga harus mendorong untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor," ujarnya.

Sehingga menurutnya, tingginya nilai tukar dolar menyebabkan kondisi ekportir relatif membaik, meskipun di dalam negeri juga mengikuti. Sehingga pemerintah harus mendorong memanfaatkan momentum ini semaksimal mungkin oleh kalangan eksportir yang berbahan baku lokal.

"Umpamanya ya itu tadi, udang, ikan, furnitur, terus organic. Umpamanya crude palm oil (CPO) kan bahan bakunya dari kelapa sawit. Kemudian seperti produk-produk karet, kita kan punya karet, kopi, coklat, ini harus kita manfaatkan. Makanya pemerintah ini harus meningkatkan porsi sektor agriculture pertanian. Pertanian kita kan, kalau bicara masalah ekspor kan porsinya masih kecil, mungkin masih 10 persen itu yang harus kita tingkatkan," bebernya.

Terkait ekspor Jawa Timur sendiri, sampai dengan bulan Juli kemarin Isdarmawan menyebut sekitar USD 10,9 miliar. Sehingga ada kenaikan sekitar 7,42 persen secara year on year (yoy). Sementara tren ekspor pada semester kedua 2018 relatif bagus. "Karena kalau akhir tahun biasanya kan untuk persiapan tahun baru di luar negeri," katanya.

Namun, pada periode yang sama impor juga mengalami kenaikan. Sehingga menurutnya, kebijakan pemerintah untuk membatasi impor dinilai sudah cukup bagus. "Mengurangilah. Sampai bulan Juli ini naiknya impor mencapau 16,40 persen, karena kebutuhan bahan baku kita masih tinggi, makanya dengan aturan baru saya kira cukup bagus lah," imbuhnya.

Sementara, Isdarmawan menyebut komoditi ekspor yang mendominasi masih tetap permata, dan perhiasan sebesar 16-17 persen. Selanjutnya furnitur mengalami kenaikan sebesar 18-19 persen, tembaga naik 35 persen, ikan dan udang naik 13 persen, kertas karton juga naik hampir 15 persen. Daging dan ikan olahan itu industri-industri bahan baku mengalami kenaikan hampir 15 persen. "Nah rata-ratanya jika dibanding tahun lalu, hanya 7,42 persen, tetapi impornya kita masih tinggi seperti yang tadi saya sampaikan," katanya.

Adapun pasar utama ekspor ialah Jepang sebesar 29 persen, kemudian disusul Amerika baru ke Tiongkok. Sementara komoditi ekspor ke Jepang ialah ikan, udang, dan furnitur.

Di tempat yang berbeda, pelemahan nilai tukar rupiah justru menjadi pemicu kinerja mebel. Koreksi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi, kini dianggap sebagai sebuah angin segar bagi industri mebel tanah air.

Sekjen Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, hal tersebut disebabkan karena orientasi pelaku mebel Indonesia sebagian besar adalah ekspor. Sedangkan bahan bakunya 80 persen didapat dari lokal, sisanya impor.

Sehingga momentum tersebut akan digunakan untuk menggenjot kinerja mebel agar bisa memenuhi target nilai ekspor hingga akhir tahun. Yakni sebesar USD 2 miliar untuk mebel dan USD 850 juta untuk kerajinan. Adapun sepanjang Januari-Juni 2018, ekspor furnitur dan kerajinan mampu meraih angka USD 1,3 miliar atau tumbuh 9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. ”Memang kami eksportir mebel dan kerajinan saat ini menerima keuntungan dari melemahnya rupiah, tapi itu bukanlah keuntungan yang ada dalam rencana kami. Sebab hanya di peroleh dari selisih kurs saja, bukan dari kenaikan kapasitas produsi yang berhasil tumbuh akibat menguatnya daya saing,” tuturnya.

Winardi, salah satu pengusaha mebel kepada Radar Surabaya mengaku jika nilai tukar rupiah yang anjlok itu justru membuatnya bisa tertawa lebar. Sebab, selama ini pangsa pasarnya adalah pembeli di luar negeri. “Saya sih malah senang kalau dolar naik. Lha pendapatan saya kan ikutan naik juga,” kata Winardi yang memiliki tempat usaha di Pasuruan itu. 

Dikatakannya Jawa Timur memiliki potensi untuk mengembangkan sektor mebel. Saat ini sudah banyak pengrajin yang tembus ke pasar luar negeri. Di antaranya bahkan sampai di Amerika. “Teman-teman di Mojokerto sudah banyak yang produknya diminati pasar asing. Nah, kalau dolar bagus, mereka juga ikutan senang,” lanjutnya.

Di sisi lain, Winardi mengaku jika menembus pasar ekspor itu tidak mudah. Perlu kualitas produk yang benar-benar teruji. “Terutama kalau mau nimbus Jepang. Di sana marketnya dikenal sangat detil dan disiplin,” sambung Winardi.

Diungkapkannya, saat ini prosentase produk mebel di Jawa Timur menyumbang 52 persen untuk kebutuhan mebel nasional.

Meskipun demikian, pengrajin mebel di Jawa Timur tetap menghadapi banyak tantangan. Pertama, terkait regulasi impor yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. “Soal lain terkait persaingan pasar. Saat ini, produk asal Jatim bersaing dengan produk dari negara lain, seperti Vietnam. Untuk menjawab tantangan ini, maka kita perlu meningkatkan kualitas produksi dan juga mengembangkan pasar," urainya. 

Saat ini pasar konvensional untuk mebel keluaran Jawa Timur adalah Amerika Srikat, Tiongkok, Jepang, Korea, hingga Eropa Barat. “Nah, kita bisa mengembangkan ke negara lain. Eropa itu permintaannya bagus lho," ungkapnya.

Menanggapi nilai dolar yang terus naik, Toni Liono malah merasa di atas angin. Karena usahanya adalah di bidang lelang. Ketika banyak orang yang bangkrut dan melelang asetnya, hal ini malah menjadi kesempatan baginya. Semuanya masalah melihat peluang." Kalau ekonomi bagus kan saya malah memble," pungkasnya seraya ketawa. (*/opi)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia