Senin, 19 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Risma Terpilih Jadi Presiden UCLG Aspac

Sabtu, 15 Sep 2018 08:05 | editor : Abdul Rozack

Daei kanan: sekjen uclg aspac bernadia, wali kota risma dan presiden uclg aspac periode 2016-2018

Daei kanan: sekjen uclg aspac bernadia, wali kota risma dan presiden uclg aspac periode 2016-2018 (BAEHAQI ALMUTOIF/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai presiden United Cities and Local Government (UCLG) Asia Pasific (Aspac) periode 2018-2020. Terpilihnya Risma tersebut menjadikannya sebagai presiden UCLG Aspac pertama asal Indonesia.

Wali kota kelahiran Kediri itu terpilih setelah diajukan sebagai calon tunggal dalam pemilihan yang digelar di sela-sela kongres ke-7 UCLG Aspac di Dyandra Convention, Jalan Basuki Rahmad. Seluruh wakil dari negara yang hadir menyetujui Risma menjadi presiden Persatuan Pemerintah Kota untuk wilayah Asia Pasifik tersebut. 

“Kita memang menghindari voting, karena Asia Pasifik itu kan harmoni. Untung saja ini tadi hanya satu usulan, jadi mudah putusinnya,” ujar Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC Bernadia Irawati Tjandradewi, Jumat (14/9).

Dipilihnya Risma sebagai Presiden UCLG Aspac ini, lanjut Bernadia, didasari atas kemampuannya selama ini menangani Surabaya. Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu dianggap mampu mengubah wajah Kota Pahlawan lebih asri dan bersih. “Lalu dia banyak menerima award, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Ia juga terkenal. Karena itu banyak anggota yang mengusulkan,” jelasnya.

Bernardia berharap pengalaman Risma menata Surabaya yang sebenarnya tidak terlalu memiliki uang tapi dapat berinovasi, bisa ditularkan ke pemerintah kota di negara anggota. Karena kunci dari menata kota adalah partisipasi masyarakat yang bagus. Dan itu sudah dibuktikan di Kota Pahlawan.

Sementara itu dengan terpilihnya dirinya sebagai presiden UCLG Aspac, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku telah menyiapkan sejumlah program prioritas. Di antaranya masalah anak-anak, pemanasan global, anak muda, kemiskinan dan good government. “Insya Allah kalau itu kita sudah bisa,” kata Risma.

Kendati tidak dipungkiri Risma, bahwa sebenarnya menjadi presiden UCLG Aspac bakal memiliki tanggung jawab cukup berat. Terlebih masa jabatan yang diembannya hanya berlangsung dua tahun. “Cuman dua tahun itu tidaklah panjang. Itu saja di Surabaya coba masukkan itu kan berat, padahal saya 8 tahun,” ungkapnya. 

Untuk itu dirinya merencanakan beberapa program. Dengan begitu lulusan ITS tersebut berharap dapat memberikan sumbangsih bagi negara anggota. “Jadi apa namanya yang saya inginkan ini sisa terakhir jabatan saya, memberikan andil untuk daerah lain. Mungkin saya bisa bantu pikirkan wilayah itu. Terus terang saya khawatir akan dampak pemanasan global. Detik ini agak rentan terhadap itu. Kemudian bagaimana saya bisa untuk pengentasan kemiskinan. Saya akan pikirkan itu,” urainya.

Di penanganan terhadap dampak pemanasan global, Risma sedikit membocorkan rencanannya yang akan disampaikan ke anggota. Yakni melalui kearifan lokal. Dia melihat beberapa derah mampu menangani masalah perubahan iklim dengan berpegangan pada kearifan lokal. Rupanya hal tersebut yang bakal dilakukan dalam penanganan dampak pemanasan global.  

“Itu yang juga ingin saya bantukan pengalaman bagaimana di Surabaya kita merawat anak, karena ada beberapa di daerah yang sex addict serta trafficking. Kejadiannya sama sebetulnya, saya juga punya pengalaman itu. saya akan coba bantu itu,” tuturnya.

Risma pun sadar betul dua tahun kedepan akan bertambah sibuk. Dirinya pun berdoa agar tetap diberikan kesehatan, dan tetap dapat menjalankan tugas sebagai Wali Kota Surabaya. (bae/nur) 

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia