Senin, 24 Sep 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Tak Mau Jadi Gubernur Risma Pilih Jadi Presiden

Jumat, 14 Sep 2018 08:00 | editor : Abdul Rozack

Tak Mau Jadi Gubernur Risma Pilih Jadi Presiden

Tak Mau Jadi Gubernur Risma Pilih Jadi Presiden (ilustrasi)

SURABAYA - Kongres United Cities and Local Goverment (UCLG) Asia Pasific (Aspac) ke-7 kali ini tidak hanya sekadar berisi paparan. Tetapi juga diselipi dengan pemilihan presiden UCLG Aspac periode 2018-2020. Nama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini disebut-sebut sebagai kandidat kuat diusulkan dalam pemilihan yang berlangsung hari ini, Jumat (14/9). 

Diajukannya nama wali kota kelahiran Kediri itu terungkap setelah Presiden UCLG Aspac Won Hee Ryong membocorkan sedikit tentang pemilihan penggantinya. Dia menyebutkan bahwa Risma kemungkinan menjadi calon tunggal. “Sejauh ini kita hanya miliki satu kandidat. Banyak yang berharap dan mengusulkan beliau (Risma) menjadi presiden UCLG Aspac dan berharap bisa membawa perubahan," kata Won Hee Ryong, Kamis (13/9). 

Gubernur Jeju, Korea Selatan tersebut tidak heran munculnya suara yang mendorong Risma maju sebagai presiden UCLG Aspac. Segudang prestasi dalam mengubah wajah Kota Pahlawan telah menjadi bukti. Menurutnya, alumni ITS itu mampu menjadikan Surabaya menjadi bersih, nyaman, dan indah dengan banyaknya taman kota dan hutan kota. 

“Agenda utama kongres ini memang memilih Presiden UCLG Aspac. Saya berharap Risma menjadi Presiden UCLG Aspac yang luar biasa,” jelasnya.

Won Hee Ryong menambahkan, UCLG Aspac sudah banyak membentuk komite dan juga komitmen selama empat tahun belakangan ini. "Kami berharap ada kerja sama dengan keanggotaan yang lebih besar dan kuat ke depannya," sebutnya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini rupanya sudah memiliki pandangan UCLG Aspac ke depannya. Dia mengatakan, ingin memperkuat kearifan budaya lokal untuk membangun kota, terutama ketahanan kota atau daerah terhadap ancaman bencana. "Saya sebetulnya belum bisa bicara tentang itu (program). Tapi saya melihat permasalahan yang mendesak,” kata Risma. 

Salah satuya tentang permasalahan bencan alam. Banyak kota yang sekarang ini dalam kondisi kritis akibat dampak global warming atau pemanasan global. Keadaan tersebut harus segera diantisipasi. Risma pun berencana menggunakan kearifan lokal sebagai salah satu jalan keluar terhadap situasi darurat tersebut. 

“Saya kosentrasikan pencegahan. Karena banyak kota yang akan sangat kritis karena global warming. Maka dari itu kota-kota harus membuat program seefisien mungkin. Tanpa terlalu banyak mengeluarkan dana. Salah satu caranya dengan kearifan lokal,” sebutnya. 

Secretary General UCLG Aspac Bernadia Irawati Tjandradewi mengungkapkan, penyelenggaraan kongres di Surabaya sangat diapresiasi oleh para anggota seiring dengan meningkatnya jumlah peserta kongres. "Kami menargetkan jumlah peserta 800 orang, tapi sekarang sudah mencapai 1.200 orang yang melakukan registrasi," kata Bernadia.

Bernadia menambahkan, tema kongres tahun ini adalah menciptakan inovasi, kota ramah anak dan pembangunan yang berkelanjutan. Ia juga mengakui kalau banyak kota di dunia yang masih belum menerapkan sustainable city atau kota berkelanjutan. Tapi banyak juga kota yang menuju kondisi itu.

"Isu goal menjadi smart city dalam pembangunan kota yang berkelanjutan dengan kearifan budaya lokal akan menjadi bahan yang menarik dalam pembahasan kongres nantinya," tandasnya. (bae/nur)

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia