Kamis, 22 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Ini Kiat Risma Turunkan Suhu Panas di Surabaya

Kamis, 13 Sep 2018 14:37 | editor : Wijayanto

MOTIVASI: Walikota Surabaya Tri Rismaharini memaparkan materi dihadapab delegasi UCLG ASPAC.

MOTIVASI: Walikota Surabaya Tri Rismaharini memaparkan materi dihadapab delegasi UCLG ASPAC. (Suryanto/Radar Surabaya)

Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyampaikan beberapa poin keberhasilan kota pahlawan dalam training event perubahan iklim di Forum United Cities and Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC) ke-7 di Dyandra Convention Center, Rabu (12/9). Sejumlah antisipasi itu terbukti mampu menurunkan suhu panas di Surabaya. 

Risma mengatakan, geografis Surabaya yang berada di sekitar garis khatulistiwa membuat kota ini cukup panas. Namun pemerintah kota (pemkot) berhasil menurunkan suhu panas tersebut.

“Kita berhasil menurunkan dua derajat panas, sebelumnya sekitar 34-36 derajat,” ujar Risma seusai menjadi pembicara di training event perubahan iklim dalam acara UCLG-Apac ke -7, kemarin. 

Penurunan tersebut terjadi selama ia menjabat sejak 2010. Saat itu kondisi Surabaya panas dan kotor. Warga pun belum memiliki pengalaman pengelolaan sampah. Bahkan tempat sampah yang ada dipaksa tutup oleh warga. Sehingga Pemkot harus menyiapkan tempat baru di Surabaya barat. 

Potensi perkampungan yang proporsinya mencapai 50 persen pun coba dimanfaatkan. Wali kota yang sudah dua periode memimpin Surabaya tersebut melihat potensi untuk menggerakkan menjadi penjaga lingkungan.

“Tiap hari saya turun ke masyarakat untuk mengedukasi mereka supaya bisa mandiri mengelola sampah. Jadi tidak sekedar membuat kampung bersih. Tapi juga bisa mengelola sampah,” jelasnya. 

Wali kota kelahiran Kediri tersebut juga mengajak masyarakat mengelola air limbah. Yang kemudian digunakan untuk mencuci sepeda motor dan menyiram tanaman.

“Ini menghemat air sebesar 15 sampai 20 persen untuk konsumsi air bersih,” ungkapnya. 

Risma melihat kebiasaan peduli lingkungan ini membawa dampak besar. Banyak dampak positif yang dapat dimanfaatkan. Selain mengubah wajah perkampungan yang sebelumnya kumuh, juga membuat masyarakatnya bebas dari penyakit. Angka penderita asma, diare, demam berdarah menurun drastis. 

Risma juga memaparkan bagaimana Kota Surabaya dalam merawat 420 lokasi taman yang dikelola secara organik. Ada 28 unit rumah kompos untuk menyuplai pupuk di taman-taman kota.

Selain itu, pengelolaan sampah itu juga sudah diolah menjadi listrik dan digunakan untuk kebutuhan di kawaaan taman dan perkampungan sekitar.

Selain pengelolaan sampah, Risma juga menyampaikan keberhasilan dalam melepas Surabaya dari banjir. Sebagai kota yang terletak lima meter di atas permukaan air laut. Di tahun 2010 separo atau 50 persen wilayah Surabaya itu banjir.

Tetapi kondisi tersebut berbalik kemudian beberapa tahun berselang. Tercatat kini hanya tinggal 2 persen saja wilayah Surabaya yang masih banjir. Artinya banyak penurunan wilayah banjir yang dilakukan dengan langkah peningkatan kepedulian lingkungan.  (*/rud)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia