Senin, 24 Sep 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Bobol Server UNBK Sekolah, Eks Kepala SMPN 54 Dituntut 3 Tahun

Jumat, 07 Sep 2018 16:37 | editor : Wijayanto

DIADILI: Terdakwa Keny Erviaty (kanan) bersama Imam Setiono dan Teguh Kartono saat disidang di PN Surabaya, Kamis (6/9).

DIADILI: Terdakwa Keny Erviaty (kanan) bersama Imam Setiono dan Teguh Kartono saat disidang di PN Surabaya, Kamis (6/9). (Yuan Abadi/Radar Surabaya)

SURABAYA - Terdakwa Keny Erviaty harus menerima kenyataan jika ia dituntut paling berat oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Made Sri Astri Utami. Mantan Kepala SMPN 54 yang tinggal di Jalan Pacar Kembang IV /2-4 atau Jalan Jolotundo Baru II nomor 4, Surabaya ini dituntut selama tiga tahun penjara. Pengajuan tuntutan itu setelah JPU menduga kuat jika Keny bersalah dalam perkara pembobolan server komputer Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMPN 54. 

Tuntutan yang diajukan JPU terhadap Keny memang lebih tinggi dari stafnya yakni terdakwa Imam Setiono dan Teguh Kartono. Keduanya masing-masing dituntut 1,5 tahun penjara. Ketiganya menjalani sidang bersamaan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (6/9). Sidang beragendakan tuntutan terhadap tiga terdakwa ini dibacakan secara bergantian.

Pertama JPU membacakan tuntutannya terhadap terdakwa Keny. JPU mengajukan Keny dihukum selama tiga tahun penjara. Sebab berdasarkan keterangan saksi dan bukti-bukti di persidangan, Keny diduga kuat melakukan tindak pidana yang diatur pada Pasal 46 Ayat (2) Jo Pasal 30 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

“Terdakwa Keny diduga adalah orang yang meminta dua terdakwa lain Imam dan Teguh (berkas terpisah, Red) untuk melakukan pembobolan server itu,”  ujarnya.

Sedangkan hal yang memberatkan tuntutan Keny ialah perbuatannya dinilai meresahkan masyarakat dan merusak pembinaan generasi muda. Serta mengurangi integritas pelaksanaan UNBK di Surabaya. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa tidak pernah dihukum dan mengakui perbuatannya.

Usai tuntutan Keny, Jaksa Ni Made membacakan tuntutan terhadap terdakwa Imam Setiono dan Teguh Kartono secara bergantian. Pasal yang disangkakan kepada keduanya sama dengan pasal yang diterapkan oleh Keny. Namun, keduanya mendapatkan tuntutan lebih ringan daripada Keny. 

“Meminta majelis hakim untuk menghukum keduanya dengan penjara 1 tahun enam bulan,” ucap Jaksa Ni Made dalam tuntutannya terhadap Imam dan Teguh.

Setelah itu, Ketua Majelis Hakim Sifa’urosidin memberi kesempatan terhadap ketiga terdakwa, apakah mengajukan pledoi (pembelaan) atau tidak. Usai berkonsultasi dengan penasihat hukum masing-masing, ketiga terdakwa sepakat mengajukan pledoi.“Mohon diberikan kesempatan pembelaan,” ungkap Keny disambung dengan kedua terdakwa lainnya.

Para penasihat hukum terdakwa meminta pembacaan pledoi akan dibacakan pekan depan. Sayangnya hal itu tidak dapat diterima oleh Majelis Hakim Sifa’urosidin. Sifa justru memberikan waktu lebih panjang untuk penasihat hukum terdakwa menyusun pledoi.

“Pembelaan dari masing-masing terdakwa akan dibacakan pada hari Senin (17/9),” pungkas Hakim Sifa’urosidin sembari mengetuk palu.

Seperti yang diketahui sebelumnya, pengusutan kasus ini berawal Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini merespons hasil temuan pihak Dispendik Kota Surabaya. Diduga terjadi kecurangan pada pelaksanaan UNBK di salah satu SMP di Surabaya. 

Adanya kecurangan UNBK tersebut bukanlah sebuah kebocoran soal, melainkan ada indikasi akses ilegal yang dilakukan oleh oknum yang diduga teknisi komputer di sekolah tersebut. Setelah server tersebut dijebol, kemudian soal difoto dan disebarkan.

Setelah kasus ini diselidiki, belakangan terungkap jika pelakunya adalah Imam dan Teguh, yang merupakan pegawai tidak tetap di SMPN 4. Sedangkan, Keny Erviati sebagai otak bocornya soal sekaligus kepala sekolah di SMP yang berada di kawasan Kenjeran itu.(yua/no)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia