Senin, 24 Sep 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Teliti Sebelum Membeli Hewan Kurban

Minggu, 19 Aug 2018 09:00 | editor : Abdul Rozack

SAPI KURBAN: Sejumlah perawat ternak di tempat penjualan hewan kurban di Jalan Adityawarman, Surabaya, memberi makanan kepada sapi-sapi yang ditawarka

SAPI KURBAN: Sejumlah perawat ternak di tempat penjualan hewan kurban di Jalan Adityawarman, Surabaya, memberi makanan kepada sapi-sapi yang ditawarkan kepada pembeli, Sabtu (18/8). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya terus memantau hewan kurban yang masuk ke kota pahlawan. Hal ini guna mewaspadai penyakit endemis antraks hewan jelang Idul Adha.

Kepala Seksi Usaha Perternakan, Bidang Perternakan dan Penyuluhan DKPP Surabaya Drh Gagat Rahino mengatakan, ada beberapa daerah yang endemis penyakit antraks, seperti Jawa Tengah, kemudian  Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Selatan. “Harus ada surat keterangan kesehatan (hewan ternak),” ujar Gagat, Sabtu (18/8).

Diakuinya, dibanding dengan Jawa Tengah, hewan ternak yang masuk dari NTB, NTT, Bali dan Sulawesi Selatan relatif mudah dipantau. Sedangkan dari  Jawa Tengah  banyak jalur tikusnya. "Empat provinsi lainnya lebih mudah karena hanya satu jalur. Untuk antisipasi, pihaknya melakukan pemeriksaan ceck point di wilayah perbatasan," katanya.

Gagat menyarankan kepada pembeli guna melihat surat kesehatan dan asal hewan ternak. Ini penting sebagai langkah antisipasi. Selain itu, pembeli dapat melihat langsung dari ciri-ciri fisik hewan ternak yang dipilih. “Misalnya, dari luar, sapinya aktif dan agresif. Lalu matanya cerah atau tidak, kelopak mata warnanya harus merah muda. Hidungnya basah dan tidak kering. Tidak keluar lendir. Kemudian bulunya mengkilat,” bebernya.

Dijelasnkannya, pemeriksaan fisik ini guna mendeteksi kemungkinan terjangkitnya icterus serta cacingan. Misalnya jika ditemukan warna kuning pada kelopak mata, ada indikasi hewan tersebut terjangkit penyakit cacing. Atau mata yang terlihat pucat, bisa juga hewan mengalami anemia.

Kendati demikain, Gagat menyebutkan pihaknya terus melakukan pemeriksaan intensif yang melibatkan mahasiswa kedokteran hewan. Hasil pemeriksaan sementara yang telah dilakukan, seluruh hewan ternak masih dalam kondisi baik. Dari segi umur pun sudah memenuhi persyaratan kurban.

Hanya dirinya tak menampik masih banyak yang belum menunjukkan surat kesehatan dan hewan ternak. Salah satu alasannya para pedagang bahwa surat tersebut masih dibawa oleh saudaranya.

Surat keterangan sehat ini wajib dimiliki oleh pedagang. Pasalnya, DKPP Surabaya tidak akan memberikan stiker jika pedagang tak bisa menunjukkan surat keterangan sehat hewan yang diperdagangkan. (bae/nug)

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia