Selasa, 20 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Penderita Diabetes Tak Perlu Lagi Amputasi

Rabu, 15 Aug 2018 14:52 | editor : Wijayanto

FOKUS DI KAKI: Dokter Andre Triadi D, Sp.OT(K) menjelaskan soal penanganan yang benar terhadap penderita diabetes.

FOKUS DI KAKI: Dokter Andre Triadi D, Sp.OT(K) menjelaskan soal penanganan yang benar terhadap penderita diabetes. (ISMAUL CHOIRIYAH/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Risiko lanjutan dari komplikasi diabetes adalah kaki rusak. Biasanya ditandai dengan kaki hitam dan bengkak, mati rasa dan kesemutan. Keadaan ini dipicu oleh kerusakan saraf dan sirkulasi darah yang buruk akibat dari komplikasi diabetes militus.

Masalah kaki ini dinamai diabetic foot. Di Indonesia, ketika sudah berada pada kondisi ini, pasien memilih jalan amputasi. Padahal, ada upaya lain yang bisa dilakukan tanpa menghilangkan salah satu fungsi tubuh ini.

Di Eropa, angka amputasi dapat diturunkan sebanyak 70 persen selama 11 tahun terakhir. Hal ini karena penanganan yang benar. Yakni, dengan melakukan pengobatan pada kaki. Di Indonesia, pengobatan seperti ini belum umum terjadi. “Amputasi dilakukan ketika suatu kondisi itu sudah mengancam jiwa. Namun yang banyak terjadi di sini, karena putus asa, kaki yang luka tidak-sembuh-sembuh, maka serta merta dihilangkan,” kata dr. Andre Triadi D, Sp.OT(K) di rumah makan di Kertajaya Indah, Selasa(14/8).

Metode alternatif lain, lanjutnya, dengan mengangkat sumber dari penyakitnya. Misalkan terjadi pembengkakan karena kumpulan sel pembuluh darah yang bertumpuk dan mati, maka bukan kakinya yang diangkat, tapi sumber dari penyakitnya yang dihilangkan. “Yang terjadi selama ini, dokter hanya fokus pada pengobatan lukanya. Sementara penyebab dari luka itu tidak diperhatikan, sehingga bisa berulang kali terjadi lagi,” papar Konsultan Ortopedi ini.

Pada penderita diabetes, terkadang pasien juga mengalami perubahan bentuk kaki menjadi tak beraturan. Bengkak di beberapa bagian dan tulang kaki yang melengkung salah satunya. Kondisi ini, sebenarnya juga bisa diperbaiki dengan pemasangan penyangga kaki dan sepatu khusus untuk mengurangi risiko.

Metode penyembuhan tanpa operasi ini dilakukan oleh tiga dokter dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya. Adalah dokter Andre, dr. Pramono Ari W. Sp.OT  dan dr Wirindro Wisnosubroto ,Sp.OT. “Jadi awal kita lakukan screening lagi, masalah komplikasi kaki kan bisa kompleks,bisa ke syaraf, tulang, maupun penyumbatan pembuluh darah,” ujarnya.

Setelah ditemukan penyebabnya, baru dilakukan penanganan. Penanganan dilakukan dengan melakukan koreksi kadar gula dalam darah. Selanjutnya adalah membetulkan struktur anatomi dan managemen luka. Baru setelah itu teratasi adalah penggunaan alat bantu penyangga kaki.

Dengan metode baru ini, para dokter berharap, masyarakat tahu bahwa amputasi bukanlah jalan satu-satunya untuk mengatasi diabetic foot. Pengobatan ini, dilakukan oleh dokter spesialis ortopedi dengan tetap melibatkan dokter spesialis penyakit yang lain. “Diabetes memang kompleks, namun kenapa di sana angka amputasi bisa ditekan, karena dokter-dokter di Eropa sudah sadar untuk memfokuskan penanganan yang terpusat pada kaki saja,” pungkasnya.(is/no)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia