Rabu, 19 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Warga Kota Surabaya, Waspadai Hawa Panas dan Kering

09 Agustus 2018, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

BIAR SEGAR: Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. Hal ini dilakukan untuk menurunkan suhu panas yang terjadi b

BIAR SEGAR: Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. Hal ini dilakukan untuk menurunkan suhu panas yang terjadi beberapa hari terakhir. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Warga Kota Surabaya harus mewaspadai pada bulan Agustus ini merupakan puncak dari musim kemarau. Cuaca di Kota Pajlawan bakal panas dan kering saat siang. Sebaliknya berubah menjadi dingin pada malam dan pagi hari. 

Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya

Kondisi ini terjadi karena disebabkan angin muson timuran berembus dan membawa massa udara dingin dari Benua Australia yang kini mengalami musim dingin. 

Embusan angin muson timuran menyebabkan cuaca di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur terkena dampaknya. Massa angin tersebut bersifat panas dan kering saat siang. Sebaliknya berubah menjadi dingin pada malam dan pagi hari. 

Kepala Kelompok Forecaster Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) Maritim Perak II Surabaya, Ari Widjajanto membenarkan fenomena alam tersebut.

“Memang kita masih memprediksikan di bulan Agustus-September ini mulai memasuki puncak musim kemarau, meskipun ada di beberapa tempat yang sudah merasakan musim penghujan. Contohnya seperti Banyuwangi,” kata Ari saat di konfirmasi, Rabu (8/8).

Banyuwangi yang telah mengalami musim hujan, lanjut Ari, karena kota yang biasa dikenal dengan sebutan Bumi Blambangan tersebut telah mengalami musim kemarau terlebih dahulu dari pada kota atau kabupaten yang ada di Jatim. “Jadi beberapa tempat sekitar Banyuwangi itu mendapatkan hujan lebih awal,” lanjutnya.

Menurut Ari, angin Muson Timuran yang berembus dari Timur ke Barat membawa dampak efektif membawa massa uap air dari lautan. Angin tersebut berembus mulai dari Kepulauan Nusa Tenggara hingga Pulau Bali dan cenderung membawa angin kering hingga berdampak ke pulau Jawa. 

“Jadi kalau Banyuwangi itu cenderung mendapat massa angin dari laut, kalau Kepulau Nusatenggara dan Pulau Bali hingga Jawa mendapat massa angin kering dari Australia,” imbuhnya.

Dengan adanya embusan massa angin Muson Timuran tersebut, ada beberapa dampak yang perlu diperhatikan bagi nelayan pesisir Surabaya bila saat akan melaut. “Jadi anginnya tidak menentu saat ini, kalau dari utara bisa saja membentuk angin kencang dari timur ke utara. Itu juga berlaku di perairan Selat Madura, dan Laut Jawa bagian Timur, karena berfluktuasi (tidak stabil, Red) tadi,” pungkas Ari.

Menurut catatan BMKG, Ari mengingatkan untuk tetap berhati-hati saat melaut atau berada di perkotaan. Karena saat ini angin berembus kisaran 13-16 Knot, atau sama dengan 15-28 kilometer per jam.(*/no)

(sb/gin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia