Sabtu, 20 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya
Amalkan Beberapa Doa di Buku Bekas Jualannya

Penjual Nasi Aking Ini Nabung di Bawah Tikar untuk Naik Haji

Selasa, 07 Aug 2018 07:20 | editor : Abdul Rozack

GEMAR MENABUNG: Tarijah penjual nasi aking yang berangkat haji.

GEMAR MENABUNG: Tarijah penjual nasi aking yang berangkat haji. (BAEHAQI ALMUTOIF/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Kisah Tarijah bisa berangkat ke Tanah suci bisa menjadi inspirasi. Nenek 3 cucu asal Desa Bogo, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk tersebut akhirnya bisa berangkat setelah mengumpulkan uang dibawah tikar tempat tidurnya. 

Keseharian wanita berusia 73 tahun tersebut berjualan nasi aking atau yang lebih dikenal dengan karak. Penghasilannya pun tidak menentu. Ketika pasar sepi, nyaris tidak ada pendapatan yang masuk. Namun saat ramai, mampu mengumpulkan uang hingga Rp 100 ribu. 

Sedikit demi sedikit penghasilan tersebut dikumpulkan demi mewujudkan mimpi berhaji sejak 2003 silam.“Saya tidak tahu bank, bagaimana cara menabung di bank saya tidak tahu. Jadi ya kalau ada uang saya simpan di bawah tikar kasur. Tiap hari kamar itu saya kunci,” kata Tarijah yang berangkat bersama dengan kloter 59 melalui Embarkasi Surabaya tersebut, Senin (6/8).

Sedikit demi sedikit dana tersebut akhirnya terkumpul. Tepatnya pada 2010, uang Tarijah terkumpul Rp 20 juta. Tarijah berniat untuk daftar haji, namun uangnya masih kurang Rp 5 juta. Untuk menutupi kekurangan biaya daftar haji tersebut, Tarijah meminjam uang pada seseorang. 

“Uangnya kurang Rp 5 juta, saya pinjam uang pada orang untuk nutup daftar haji. Alhamdulillah 8 tahun sampai saat ini, saya bisa bayar nutup biaya ongkos naik haji,” sebutnya.

Keseharian Tarijah tinggal bersama seorang cucu. Dia tinggal di rumah yang sangat sederhana. Untuk memasak setiap hari pun masih menggunakan tungku kayu bakar. Setiap usai melaksanakan salat subuh pukul 06.00 WIB, Tarijah pergi ke tempat berjualan di Pasar Wage dengan berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer. 

Selain nasi aking, ia berjualan buku dan koran bekas, kayu arang, jagung, bekatul dan botol bekas di lapak dagangannya. Untuk makan sehari hari, nenek yang sudah kehilangan putra satu satunya karena sakit stroke ini masak di kios pasar. “Kalau beli ya mahal, Rp 5 ribu dapat nasi sekepel. Jadi ya masak ngeliwet nasi 3 ons kadang setengah kilo sehari sudah cukup,” ungkapnya.

Di sela waktu ketika tidak ada pembeli di kiosnya, wanita lanjut usia ini selalu menyempatkan diri untuk membaca Alquran dan buku buku bekas yang ia jual. Ia lantas menunjukkan pada staf humas Kanwil Kemenag Jatim lampiran buku bekas tentang fadilah bacaan doa yang ia simpan di tas paspornya. Tarijah menuturkan, dirinya senang mengamalkan beberapa doa dan bacaan yang ia baca di beberapa buku bekas yang dijualnya.(bae/no)

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia