Sabtu, 20 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Pedagang Emas Kaki Lima Masih Eksis

Keluar Masuk Hotel Prodeo gara-gara Emas Curian

Senin, 06 Aug 2018 17:19 | editor : Wijayanto

TURUN TEMURUN: Abah Andik yang menununggu lapaknya di Jalan Bubutan Surabaya.

TURUN TEMURUN: Abah Andik yang menununggu lapaknya di Jalan Bubutan Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Surabaya - Berbisnis jual beli emas kaki lima bukanlah pekerjaan gampang. Abah Andik mengaku harus pandai merayu calon konsumen agar mau menjual emasnya. Sejauh ini, konsumen yang menjadi pelanggannya didominasi oleh para ibu-ibu dan remaja.

Ia mengaku dalam berbisnis jual beli emas, peralatan yang dibutuhkan cukup sederhana seperti timbangan emas, air raksa, batu, kalkulator dan kacamata.

"Biasanya kita lihat dulu emasnya. Kita teliti dan timbang. Air raksa untuk menilai apakah kadar emas yang akan dijual konsumen itu bagus atau tidak. Kalau kadar emasnya rendah, otomatis harganya juga murah. Apalagi emas yang dijual ke kita sering tidak ada suratnya. Makanya berpengaruh pada harga. Coba dijual di toko emas, mana mau mereka itu," jelasnya.

Walau terlihat tidak meyakinkan, namun nyatanya mereka sangat pandai dalam bicara dan memiliki beberapa alat yang berhubungan dengan jual-beli emas. Setelah tawar-menawar yang alot selama beberapa saat, akhirnya emas itu terjual dengan harga yang lumayan jika dibandingkan dengan penawaran dari toko tadi.

Pria yang tinggal di Bronggalan Sawah Timur Pacar Keling, Kenjeran ini mengatakan, banyak para pedagang emas kaki lima ini bisa terjun dalam dunia jual-beli emas dengan modal yang pas-pasan, bahkan bisa dibilang sangat kecil.

Tempat jualan yang dipakai sangat sederhana, biasanya hanya memerlukan meja atau lemari kaca kecil untuk menaruh beberapa peralatan untuk memeriksa emas, timbangan emas, dan lain sebagainya, sehingga banyak cerita suka duka selama menekuni bisnis ini.

"Awal-awal saya sering kena musibah. Mungkin karena dulu masih muda, jadi kalau ada yang jual ya saya beli saja tanpa tahu asal-usul emas itu darimana. Dulu saya sering juga terciduk karena barang dagangan merupakan hasil curian,” ujarnya.

Setelah keluar masuk hotel prodeo karena barang dagangan, kini dia mengaku lebih hati-hati. “Sekarang karena sudah berpengalaman ya jadi sudah bisa membedakan mana yang emas perhiasan punya mereka atau barang curian atau jambretan. Biasanya saat menjelang tahun ajaran baru ramai sekali orang-orang yang jual emas mereka," tuturnya.(cin/no)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia