Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Pedagang Emas Kaki Lima Masih Eksis

Beli Perhiasan yang Suratnya Hilang, Hasilnya Dilebur

06 Agustus 2018, 16: 28: 01 WIB | editor : Wijayanto

TUNGGU PENJUAL EMAS: Para pedagang kaki lima yang berjualan di depan toko emas di Pasar Baluran Jalan Bubutan.

TUNGGU PENJUAL EMAS: Para pedagang kaki lima yang berjualan di depan toko emas di Pasar Baluran Jalan Bubutan.

Surabaya - Bisnis kreatif sepanjang masa menjadi sebutan yang pas untuk pedagang emas kaki lima. Pedagang emas kaki lima ini adalah mereka yang biasa menggelar sebuah meja dengan kotak kaca sederhana di depan toko emas.

Di Surabaya, kita dapat menemui mereka di beberapa tempat. Salah satunya, para pedagang emas kaki lima yang masih eksis berjejer di sepanjang trotoar toko emas di kawasan Pasar Blauran. Mereka adalah orang-orang yang sangat kreatif dalam dunia bisnis.

Abah Andik, salah satu pedagang emas kaki lima yang telah 40 tahun lebih menekuni bisnis ini. Ia bercerita, bisnis emas kaki lima ini merupakan bisnis turun temurun dari orangtuanya. Menurutnya, dulu pedagang emas kaki lima masih belum banyak, mulai tahun 1998 mulai banyak orang-orang yang membuka lapak tidak jauh dari tempatnya berjualan.

"Dulu itu ayah saya sendirian yang jadi pedagang emas kaki lima seperti ini. Tapi lambat laun mulai bermunculan satu per satu, sampai akhirnya jadi banyak yang berjejer di sini," terangnya.

Walau terkesan sederhana, namun nyatanya pedagang emas kaki lima ini masih memiliki langganan yang setia menjual emas mereka padanya, dan keuntungan lumayan besar. Andik mengaku, bisa mendapatkan keuntungan dari 20 gram emas yang didapat jika sedang ramai.

Pedagang emas kaki lima biasanya menerima jual beli perhiasan emas yang sudah tidak sempurna. Seperti anting-anting cuma sebelah, atau perhiasan yang sudah hilang surat-suratnya. Pedagang emas kaki lima biasanya berani membeli emas perhiasan atau batangan tanpa sertifikat sekalipun, karena mereka sudah punya jaringan bisnis yang mau menampung emas yang mereka beli di jalan.

Biasanya mereka melebur emas yang dibeli dan dijual ke pengusaha emas langganan mereka. Kadang mereka juga menjual ke pengusaha toko emas yang ada di sekitarnya, yang penting ada untungnya.

"Ya kami memang membantu mereka yang ingin menjual emas perhiasannya yang surat-suratnya hilang atau bentuknya sudah tidak sempurna lagi. Kalau mereka jual di toko emas pasti ditolak," ujarnya.

Para pedagang ini adalah contoh kreatif dalam bisnis. Mereka tahu modal toko emas sangat besar, namun mereka punya caranya sendiri untuk tetap menjalankan bisnisnya walau dengan modal minim sekalipun.

"Yah, bisnis memang harus kreatif. Harga beli kami juga tetap mengikuti harga pasaran," imbuhnya.

Pria asal Lamongan ini menutur, pedagang emas kaki lima satu dengan yang lainnya memiliki tujuan yang berbeda. Beberapa di antara mereka ada yang menjual kembali emas yang dibelinya ke pasar, kepada pengepul, ada juga yang menjalin kerja sama dengan teman yang nantinya emas-emas hasil beli, mereka akan diproses kembali.

"Kita tetap masing-masing. Karena modal masing-masing pedagang juga berbeda-beda. Rata-rata banyak yang dijual kembali ke pengepul. Kalau saya, sudah tek-tok-an dengan teman yang sudah biasa ambil emas dari saya untuk kemudian dilebur," jelasnya.(cin/no)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia