Rabu, 12 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya
Prospek Bisnis Properti di Tahun Politik

Pasar Stagnan, Pengembang Harus Kreatif

27 Juli 2018, 09: 50: 48 WIB | editor : Wijayanto

MEGAH: Prospek apartemen masih bagus pada tahun politik ini. Hal itu tergantung dari strategi pembayarannya. Tampak apartemen Waterpalace di kawasan Surabaya Barat.

MEGAH: Prospek apartemen masih bagus pada tahun politik ini. Hal itu tergantung dari strategi pembayarannya. Tampak apartemen Waterpalace di kawasan Surabaya Barat. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Surabaya - Proyeksi bisnis properti tahun ini diprediksi masih akan stagnan. Hal ini disebabkan adanya beberapa tantangan dan sekaligus peluang yang terbuka lebar dalam bisnis real estate, terutama sektor hunian.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jawa Timur Soepratno mengatakan, peluang bisnis properti di semester kedua ini tetap memiliki prospek yang baik. Terutama untuk segmen rumah menengah ke bawah. Namun, akan sedikit melemah karena akibat dampak dari tahun politik.

Soepratno menyebut, prospek apartemen di semester kedua ini dinilai sama saja dengan rumah kelas menengah ke bawah. Secara umum tahun politik menyebabkan daya beli masyarakat turun, sehingga bisnis properti melambat. “Dalam situasi seperti ini, para pengembang yang penting bisa bertahan,” terangnya.

Soepratno menutur, sampai saat ini pasar properti utamanya pengembangan rumah rakyat di Jawa Timur terbilang masih stagnan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh momen politik sehingga pasar properti dinilai belum menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. “Artinya tidak terlalu bagus ataupun tidak terlalu jelek, kondisinya stagnan,” ujarnya.

Namun, Soepratno menargetkan, adanya pengembangan rumah rakyat sebanyak 12 ribu unit yang tersebar di Jawa Timur seperti Tuban, Mojokerto, Lamongan, Banyuwangi, Jombang, dan Gresik tahun ini. Sampai saat ini, sudah ada sekitar 50 persen atau sebanyak 6 ribu unit tergarap cukup banyak berada di wilayah Mojokerto, Tuban, Lamongan, dan Bangkalan.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Jawa Timur Rudy Sutanto mengatakan, kondisi peluang bisnis properti di semester kedua dinilai cukup berat. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh kenaikan nilai tukar USD terhadap rupiah yang hampir menembus sampai Rp 15.000.

Selain itu, menurutnya, pembiayaan pembangunan unit properti dinilai tidak terlalu signifikan di bahan baku yang kebanyakan produksi lokal. Tetapi dalam tahap penyelesaiannya banyak material pendukungnya yang masih dari impor.

Namun, Rudy menyebut, masih ada peluang yang tinggi di secondary market, itupun jika dilihat dari sisi harga. Untuk semester ini pengembang harus berpikir kreatif untuk dapat mempertahankan atau mencapai targetnya.“Jadi, pengembang yang mempunyai persediaan unit yang akan berjaya di semester ini,” tuturnya. 

Rudy mencatat, sampai saat ini penjualan properti didominasi rumah tipe kecil dengan harga yang masih sangat terjangkau. Yakni harga yang kurang lebih sekitar Rp 400 jutaan untuk rumah berlantai satu dan seharga Rp 550-600 jutaan untuk rumah berlantai dua.

“Tapi kesemuanya mesti dilihat lokasinya dimana. Di properti kan selalu bilang lokasi, lokasi, dan pastinya lokasi,” ujarnya.Meski demikian, menurut Rudy, prospek apartemen dinilai masih akan tetap bagus. Namun itu pun tergantung dari strategi pembayaran yang dilakukan. 

Sedangkan Direktur PT Pakuwon Jati Tbk Sutandi Purnomosidi menyebut, peluang bisnis properti di semester kedua, meskipun kondisi pasar masih stagnan, pihaknya melihat lancarnya pelaksanaan pilkada secara serentak dinilai sangat kondusif. Hal ini tidak akan memberi pengaruh yang berarti untuk prospek bisnis properti.

“Meski di tahun politik ya kita optimistis saja semua berjalan lancer. Siapapun yang terpilih pasti berusaha membuat negara ini maju dan masyarakatnya sejahtera meski melalui cara atau programnya masing masing,” pungkasnya.

Sutandi menyebut, beberapa tantangan seperti terkait dampak tahun politik terhadap bisnis properti juga cukup memberikan pengaruh. Hal tersebut dapat dilihat dalam kondisi pasar properti yang masih lemah seperti sekarang. Melihat kondisi tersebut, akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat merelaksasi dunia usaha seperti kebijakan keringanan perpajakan, suku bunga, dan kebijakan lainnya.

“Serta adanya paket stimulus yang diberikan otoritas terutama terkait loan to value (LTV) yang dinilai akan mampu menggairahkan pasar properti di semester kedua ini,” katanya. (cin/no)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia