Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo

Kurir Ganja 8 Kg Dikendalikan dari Lapas

25 Juli 2018, 20: 19: 39 WIB | editor : Lambertus Hurek

Tersangka Ilman Barori usai sidang di PN Sidoarjo.

Tersangka Ilman Barori usai sidang di PN Sidoarjo. (Satria Nugraha/Radar Sidoarjo)

Ilman Barori, warga Durungbedug, RT 20 RW 5, Kecamatan Candi, mengaku bertugas sebagai kurir ganja. Bisnis narkoba ini dikendalikan dari dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). Pengakuan pria 24 tahun ini disampaikan saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Rabu (25/7).
Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Syafruddin dengan agenda mendengar keterangan saksi. Terdakwa Ilman ditangkap oleh polisi saat mengambil barang kiriman berupa paket ganja sepuluh bungkus dengan berat 8,5 kilogram di Kantor Pos Sedati, Selasa (27/3/2018) pukul 17.00. "Saat itu saya ambil barang dengan istri saya pakai mobil rental. Istri saya tidak tahu kalau barang itu ganja, tapi saya sudah tahu," katanya.
Saat ditanya hakim ke mana mobil itu setelah ditangkap, terdakwa Ilman mengaku menyewa mobil Rp  250 ribu. "Pas saya ketangkap, mobil itu dikembalikan  dan dibayar oleh keluarga saya," ujarnya.
Pria bertato ini mengaku sudah tiga kali ini menjadi  kurir ganja. Bapak satu anak ini disuruh oleh tetangganya bernama Nanang, narapidana kasus sabu  di Lapas Porong. "Saat itu adiknya Nanang bernama  Dita datang ke rumah minta nomor HP saya. Beberapa  hari kemudian saya ditelepon Nanang tanya kabar. Enggak lama kemudian nawari saya jadi kurir ganja,"  jelasnya.
Terdakwa Ilman yang sehari-harinya berprofesi sebagai  sopir dengan upah Rp 70.000 per hari pun tergiur. Dia
langsung menerima tawaran tersebut. "Ya karena saya butuh buat tambahan keuangan keluarga," tuturnya. "Saya mulai jadi kurir sejak Januari 2018. Setiap selesai mengirim paketan tersebut, saya ditransfer  oleh Nanang ke rekening istri saya. ATM istri saya  kosong lama gak kepakai. Dan setiap dapat uang saya  bilang istri saya dapat rezeki," jelasnya.
Ia mengaku melakukan komunikasi melalui ponsel setiap ada instruksi dari Nanang. "Untuk yang bulan Januari saya gak mengambil di kantor pos. Ada orang yang datang ke rumah saya ngantar barang," katanya. "Setiap melakukan oper barang (kirim), saya ditelepon oleh penerima nomer yang gak dikenal. Saya bilang barang tersebut ditaruh di bawah pohon dan lokasinya berpindah-pindah. Saya pun gak pernah tau dan kenal sama orangnya," imbuhnya.
Sidang dilanjutkan Selasa (31/7) depan dengan agenda  tuntutan jaksa penuntut umum. (mus/rek)

(sb/mus/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia