Sabtu, 20 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo
Rebutan Pacar, Aniaya Korban hingga Tewas

ABG Ngingas Krian Divonis Tiga Tahun

Selasa, 24 Jul 2018 14:27 | editor : Lambertus Hurek

MF menyimak pembacaan vonis di PN Sidoarjo.

MF menyimak pembacaan vonis di PN Sidoarjo. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Ibunda almarhum Rahmat Nur Habib, Painem, tak bisa menahan amarahnya saat majelis hakim menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara terhadap MF. Remaja 15 tahun asal Ngingas, Krian, ini merupakan terdakwa penganiayaan yang menyebabkan Rahmat meninggal di Simpang Lima Krian, 19 Juni 2018.

"Sudah puas kamu membunuh anak saya?" ujar Painem kepada MF yang digelandang petugas usai persidangan di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Senin (23/7).

Warga Dusun Plumpang, Desa Penambangan, Balongbendo, ini mengatakan, sebelum kejadian, anaknya dijemput oleh temannya yang bernama Yusuf. "Saat itu, usai magrib, tapi sampai malam kok gak pulang. Baru besoknya ada yang mengabari anak saya sudah di rumah sakit. Kemudian ada anak yang bernama Guntur bilang, dia yang terakhir dengan anaknya," ungkapnya.

Painem mengaku heran karena Guntur tidak dijerat pasal penganiayaan. "Saya tidak terima kenapa kok cuma terdakwa yang diputus bersalah. Padahal, anak saya dikeroyok. Logikanya, anak sekecil (SMP) itu masak bisa ngalahin anak saya yang badannya besar dan sudah lulus SMK," imbuhnya.

Painem menegaskan dirinya ingin mengajukan banding. "Tapi saya ingin petugas mengungkap pelaku lain, selain MF," tegasnya.

Sementara itu, MF hanya bisa tertunduk menutupi wajahnya di balik bahu petugas. Vonis ini sedikit lebih ringan dibanding tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) empat tahun enam bulan pada Kamis (19/7) lalu. Dalam persidangan, Ketua Majelis Hakim, Syafruddin menjelaskan, perbuatan terdakwa  melanggar pasal 353 ayat 3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). "Yang memberatkan terdakwa adalah tindakannya mengakibatkan nyawa seseorang hilang. Sedangkan yang meringankan, selama persidangan terdakwa bersikap sopan," jelasnya. 

Menanggapi vonis ini, Jaksa penuntut umum (JPU) Guntur Arief Witjaksono menyatakan masih pikir-pikir. "Kami masih harus konsultasi dengan pimpinan terlebih dulu," ujarnya singkat. 

Sekadar mengingatkan, kejadian penganiayaan berujung maut itu dipicu oleh cinta segitiga. Tersangka dan korban rebutan pacar. Sebelumnya, keduanya melakukan komunikasi di media sosial untuk bertemu. Saat bertemu di Krian, terjadilah perkelahian, sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia.

Korban Rahmat tewas usai terkena luka tusuk di bagian punggung, luka sayat di dada, dan luka di bagian kepala. "Korban ditusuk menggunakan pisau sepanjang 20 sentimeter. Pisau ini sebelumnya sudah dibawa dari rumah," ujar penyidik. (mus/rek)

(sb/mus/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia