Selasa, 16 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Pengasuhan Kurang Baik Sebabkan Stunting Pada Anak

Senin, 23 Jul 2018 14:25 | editor : Abdul Rozack

ILUSTRASI

ILUSTRASI (net)

Apa yang dikonsumsi anak sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya. Itulah mengapa sejak sebelum mengandung, seorang ibu harus segera mempersiapkan diri, agar nutrisi yang diberikan kepada calon jabang bayi ,cukup. Karena jika tidak, masalah pertumbuhan stunting bisa terjadi. 

Ismaul Choiriyah - Wartawan Radar Surabaya

Stunting adalah masalah serius yang terjadi di Indonesia. Sebanyak 27,5 persen anak Indonesia terkena stunting. Bisa dikatakan 1 dari tiga anak di Indonesia, mengalami stunting. Lalu apa itu stunting? 

Stunting adalah kondisi tinggi badan lebih pendek dibandingkan dengan orang lain yang seusia pada umumnya. Stunting ini menggambarkan keadaan kurangnya asupan gizi yang sudah berjalan lama. Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis anak Rumah Sakit (RS) Adi Husada Undan Wetan Surabaya, dr. Annie Kusuma Dewi, Sp.A.

Dijelaskan Annie, penyebab stunting ada beberapa faktor. Di antaranya adalah praktek pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya akses ke makanan bergizi dan sanitasi. Stunting bisa terjadi pada anak dari keluarga mampu dan kurang berada. Hal ini erat kaitannya dengan pengetahuan orang tua terhadap gizi dan asupan yang baik untuk anak.

Praktek pengasuhan yang kurang baik yang dimaksud di sini adalah kurangnya pengetahuan orang tua terkait kesehatan dan gizi anak, sebelum dan saat masa kehamilan. Hal ini sangat berpengaruh karena untuk mendapatkan tumbuh kembang optimal, segalanya harus dipersiapkan sejak 1.000 hari pertama kehidupan mereka atau semenjak masa pembuahan. "Itulah pentingnya seorang ibu untuk memperbanyak ilmunya, terutama saat sebelum hamil. Media belajar sekarang kan banyak. Ada buku, internet dan kelas-kelas pra nikah. Jadi, ketika mengandung, ibu sudah memiliki ilmunya," urainya, belum lama ini.

Selain ilmu, lanjut Annie, ASI adalah hal yang mendasar yang wajib diberikan kepada anak agar mendukung tumbuh kembang optimalnya. Dalam ASI, terdapat komponen nutrisi lengkap yang tidak bisa digantikan susu formula mana pun. Pemberian ASI juga dapat meningkatkan kedekatan emosional anak dengan ibu. Selain ASI, makanan pendamping ASI juga wajib diberikan pada 6 bulan usia anak.

" Padahal, sebaiknya, ibu memberikan ASI eksklusif pada usia 0-24 bulan," imbuhnya.

Diakui Annie, terbatasnya layanan kesehatan juga bisa menyebabkan stunting. Soal imunisasi, misalnya. Imunisasi dan posyandu harus diberikan kepada anak agar mereka kebal terhadap berbagai penyakit yang dapat menghambat proses tumbuh kembangnya. 

Kurangnya asupan gizi pada ibu hamil, juga sangat berpengaruh terhadap stunting tidaknya anak. Dari data yang didapatkan, satu dari ibu hamil di Indonesia tercatat kekurangan zat besi. Padahal, zat besi sangat berguna bagi pembentukan plasenta yang berfungsi sebagai alat distribusi nutrisi dari ibu ke anak. "Selama hamil juga, perlu kiranya ibu mengonsumsi makanan-makanan dengan gizi yang dibutuhkan untuk perkembangan janin," imbuhnya.

Annie menambahkan, orang tua hendaknya juga memberikan asupan protein hewani yang cukup pada anak. Protein hewani ini mengandung banyak asam amino essensial, yang gunanya untuk perkembangan tubuh, pembentuk jaringan, pertumbuhan otak dan metabolisme. "Anak gak suka daging, ya jangan diberi kerupuk saja. Harus dibiasakan. Lama-lama lak suka sendiri. Hal seperti itu tidak boleh. Pertumbuhan anak tidak bisa ditunda," imbuhnya.

Akibat stunting ini tidak hanya berpengaruh pada tinggi badan yang jauh di bawah yang lain. Namun juga mempengaruhi perkembangan otak. Anak yang kekurangan gizi sejak dalam kandungan, memiliki resiko perkembangan otak tidak maksimal. Karena masa emas pertumbuhan otak ada sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Anak yang terkena stunting juga rentan terkena penyakit tidak menular, seperti jantung dan diabetes. 

Ditambahkan Annie, kualitas anak yang dilahirkan, mempengaruhi kualitas masa depannya. Anak yang kekurangan gizi, kualitas belajarnya bisa rendah sehingga menimbulkan perawakan pendek dan lambat dalam berfikir. "Ini bisa berdampak hingga besar. Bisa jadi kemampuan bekerjanya gak optimal. Kalau jadi seperti itu, gimana dia dapet kerja yang bagus. Ujung-ujungnya nanti dia gak dapat kerja, kesulitan ekonomi dan diulang lagi ke anak selanjutnya. Jadi lintas generasi nantinya," pungkas Annie. (*/opi)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia