Kamis, 16 Aug 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pendaftaran HKI di Industri Kreatif Masih Minim

Kamis, 05 Jul 2018 16:38 | editor : Wijayanto

HASIL KARYA: Syahril, salah satu pengrajin miniatur bumi atau yang biasa disebut globe saat mengerjakan karyanya di rumah industri UMKM Jalan Gayungan.

HASIL KARYA: Syahril, salah satu pengrajin miniatur bumi atau yang biasa disebut globe saat mengerjakan karyanya di rumah industri UMKM Jalan Gayungan. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus mendorong para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia untuk melakukan pendaftaran merek dan hak cipta terhadap produk–produk yang dimilikinya. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah pemalsuan yang dapat merugikan produsen dan juga konsumen.

Wakil Kepala Bekraf Ricky J. Pesik mengatakan, masalah terkait pendaftaran hak kekayaan intelektual (HKI) memang cukup berat. Sampai dengan saat ini para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia yang sudah mendaftar HKI masih sekitar 17 persen dari 16,9 juta pelaku ekonomi kreatif yang ada di tanah air.

Menurutnya, kesadaran pelaku ekonomi kreatif untuk mendaftarkan HKI masih belum begitu tinggi. Padahal apabila sebuah produk telah memiliki HKI dapat menekan kerugian akibat pemalsuan merek.

"Jadi PR kita masih banyak karena masih ada sekitar 83 persen yang belum mendaftarkan. Padahal manfaat dari HKI itu besar," terangnya.

Ricky menjelaskan, rendahnya kesadaran pelaku kreatif ini karena mereka menganggap biaya mengurus HKI besar dan proses pengurusan dokumennya rumit. Seperti yang telah diketahui, pendaftaran HKI memang ditujukan ke Kementerian Hukum dan HAM. Tetapi Bekraf berkomitmen untuk terus memfasilitasi dan mendampingi pelaku kreatif melakukan pendaftaran tersebut.

Adapun pada tahun 2016 sampai dengan sekarang tercatat sudah ada 4 ribu pelaku usaha industri kreatif yang didaftarkan Bekraf untuk memiliki HKI. "Kami menargetkan sampai 2019 nanti bisa bisa memfasilitasi 10 ribu pelaku kreatif. Makanya kami akan masiv melakukan sosialisasi terkait masalah tersebut agar kesadaran mereka terus bertambah,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari menambahkan, tidak hanya permasalahan itu saja, persoalan besar lainnya di industri kreatif Indonesia yang masih ditemui hingga kini adalah masalah talenta. Menurutnya, industri kreatif tanah air sampai sekarang masih mengalami kekurangan ahli-ahli yang tanggap terhadap digital ekonomi.

"Yang minat untuk bekerja di industri kreatif sebenarnya banyak. Tetapi yang benar-benar ahli masih sedikit,” katanya.

Padahal, potensi industri kreatif digital ke depannya sangat besar melihat dunia sekarang sudah berubah secara visioner. Sebagai contoh di sektor Game. Pada 2015 nilai industri game Indonesia sebesar USD 321 juta. Kemudian tahun 2016 mencapai USD 480 juta. Dan 2017 naik lagi menjadi USD 800 juta.

"Oleh karena itu lewat ajang ini semua para pelaku ekonomi kreatif bisa sharing sekaligus bisa bertemu dengan para investor. Karena peluang terhadap industri kreatif sangat besar untuk digarap,” pungkasnya. (cin/rud)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia