Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Menangis, Anak Tiri Umur 2 Tahun Dipukul, Dibenamkan, Dicubit... Mati

25 Juni 2018, 22: 56: 00 WIB | editor : Abdul Rozack

TERSANGKA: WCB. KORBAN: MRA (insert)

TERSANGKA: WCB. KORBAN: MRA (insert) (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Gara-gara jengkel dan terganggu anak tirinya menangis tak kunjung henti, WCB , 35, warga Jalan Sidotopo, Surabaya bertindak diluar kewajaran. Ayah tiri tersebut tega menghabisi MRA,  yang baru berusia 2,8 tahun dengan sadis.

Korban dihabisi tersangka di rumah Kos di Sidotopo Wetan, Kenjeran pada hari Rabu ( 20/6 ). Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto menuturkan, peristiwa pembunuhan ini terjadi saat tersangka yang saat itu sedang tidur sore sekitar pukul 16.30 di rumah kosnya terbangunkan oleh korban yang sedang menangis. 

Tersangka yang jengkel karena tangisan korban, langsung terbangun dan membawa korban masuk kedalam kamar mandi. Melihat korban yang tak kunjung diam, tersangka langsung memukul kepala korban dengan tanggannya. 

”Posisi tangan tersangka mengepal saat memukul korban,” kata AKBP Antonius Agus Rahmanto, Senin (25/6).

Tak hanya itu, tersangka pun tega memasukan kepala korban kedalam ember yang berisi penuh air selama kurang lebih 10 detik. Akibatnya, nafas korban pun tersedak-sedak. Namun perlakuan keji ayah tiri yang bekerja sebagai tukang las tersebut tidak berhenti sampai situ. Setelah dimasukan ember, kepala korban diangkat dan tersangka juga menghantamkan pukulan dan cubitan kebagian perut dan paha korban. 

Tidak lama, ibu korban datang dari acara halal bihalal di rumah tetangga dan kaget menyaksikan anaknya dalam kondisi nafasnya tersendak-sendak di atas kasur. 

Sang ibu berinisiatif mengajak suami yang baru dinikahi selama 6 bulan itu untuk mengantarkan korban ke RSUD Soewandhi.

Sayangnya dalam perjalanan menaiki sepeda motor yang juga diantarkan oleh tersangka, nyawa korban tidak tertolong. ”Korban dinyatakan meninggal dunia saat berada di rumah sakit sekitar pukul 18.00. Saat itu juga korban langsung dilakukan proses pemakaman sepulang dari rumah sakit,” terang Agus.

Namun saat proses perawatan jenazah, salah satu pihak keluarga merasa curiga dengan kematian korban. Ia memotret jenazah korban dan melaporkan kepada polisi.  (son/rud)

(sb/son/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia