Minggu, 16 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Sutandi Purnomosidi, Direktur Marketing Pakuwon

Mantan Mahasiswa Kedokteran yang Kreatif

21 Mei 2018, 14: 07: 18 WIB | editor : Wijayanto

DEKAT MEDIA: Sutandi Purnomosidi dalam sebuah wawancara dengan media elektronik.

DEKAT MEDIA: Sutandi Purnomosidi dalam sebuah wawancara dengan media elektronik. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Sebelum terjun di dunia bisnis, Sutandi Purnomosidi sebenarnya seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Tarumanegara, Jakarta. Ia angkatan 1985. Tetapi, sampai pada tingkat lima, Sutandi memilih meninggalkan pendidikannya.

Ia kemudian memutuskan untuk pindah ke Australia dan melanjutkan pendidikan di sana. Sutandi mengambil Pendidikan Bisnis Manajemen.

"Saat itu saya mengambil diploma selama kurang lebih tiga tahun. Dan ada satu cerita yang tidak akan pernah terlupakan ketika saya kuliah di sana," akunya.

Sutandi menceritakan, sebagai seorang mahasiswa perantauan dengan uang yang cekak, ia menjadi seorang mahasiswa yang harus memiliki inisiatif-inisiatif sendiri. Intinya, harus kreatif. "Saya sempat kesusahan untuk menghubungi keluarga. Saya harus bagaimana untuk dapat menghubungi keluarga di Indonesia? Sampai-sampai ketika saya akan menghubungi keluarga, karena susah dan tidak punya uang, saya sampai memiliki ide yang aneh-aneh," ceritanya.

Direktur Marketing Pakuwon Group itu pernah melakukan eksperiman yang sangat menguntungkan untuk dirinya. Saat ia akan menelepon keluarga di telepon umum, koin yang digunakan untuk transaksi ia lubangi dan kemudian diikat dengan dental floss. Kemudian ia coba masukkan koin yang telah diikat ke lubang koin di telepon umum. Tidak lama setelah masuk, ia tarik lagi koinnya. "Ternyata berhasil. Akhirnya terus begitu, setelah dimasukkan kemudian langsung ditarik lagi," ceritanya sambil tertawa.

Sutandi juga mengakui pernah bereksperimen dengan travel ten. Travel ten merupakan kartu pembayaran yang bisa digunakan sampai 10 kali. "Jadi, di sana kalau naik kendaraan umum itu pakai travel ten. Travel ten saya sudah terpakai sepuluh kali. Saya iseng, setelah pulang saya kerik satu-satu dan ternyata bisa ilang. Besoknya saya coba pakai lagi. Eh ternyata masih bisa. Akhirnya itu bisa saya gunakan daur ulang dua kali," tutur Sutandi, lantas tergelak. (cin/opi)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia