Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Sutandi Purnomosidi, Direktur Marketing Pakuwon

Tidak Boleh Ada Mal yang Sepi

21 Mei 2018, 14: 00: 42 WIB | editor : Wijayanto

SIBUK: Selain menjabat direktur marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi juga menjabat ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jatim.

SIBUK: Selain menjabat direktur marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi juga menjabat ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jatim. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Sutandi Purnomosidi adalah pria di balik kesuksesan bisnis mall milik Pakuwon Group. Tunjungan Plaza, Pakuwon Mall, East Coast, Royal Plaza, dan Pakuwon Trade Center (PTC), saat ini okupansinya (tingkat hunian, Red) di atas 94 persen. Menjaga mall tetap diminati tenant, menjadi jujugan pengunjung, tentu bukan sesuatu yang mudah. Apa resep yang diterapkan Sutandi? Berikut petikan wawancara wartawan Radar Surabaya, Herninda Cintia Kemalasari dengan direktur marketing Pakuwon Group tersebut. 

Bagaimana ceritanya Bapak menyukai dunia bisnis?

Awal berkiprah di dunia bisnis dimulai dari bekerja di PT Siap Investindo. Saya di sana bekerja di bidang forex section market atau trading. Saya di sana selama dua tahun. Kemudian saya bekerja di PHS Life sebagai Bisnis Konsultan Manager selama enam bulan. Selanjutnya di tahun 1995, saya diajak bergabung dengan PT Procon Indah. Nah, dari sinilah saya menjadi seorang profesional yang mencintai mall. Pada tahun 1996, saya begabung di Group Summarecon sebagai klien PT Procon Indah. Di sana saya meng-handle proyek mall Kelapa Gading. Ini berlangsung sampai dengan bulan Desember 2001. Karena pada awal 2002 saya pindah ke Surabaya. Pada bulan Februari 2002, saya resmi bergabung di Pakuwon Group sampai sekarang. Berarti sudah enam belas tahun saya menggeluti bidang ini. 

Kenapa Bapak memilih terjun di bisnis mall?

Yah, saya merasa memang passion saya ada di sini (mall, Red). Saya melihat mall merupakan sesuatu yang unik. Dari semua sisi properti, menurut saya, mall yang unik. Karena di sana, begitu banyak aspek yang terlibat di dalamnya. Kita harus mengenal tenant-tenant yang ada di sana. Kita harus mengerti tenant mixing atau mengatur tenant-tenant tersebut akan seperti apa. Selain itu, kita juga harus membina hubungan baik dengan riteler, dan itu yang terjadi sampai hari ini. Sehingga, meskipun saya sudah pindah di Surabaya, hubungan baik kami dengan riteler di Jakarta masih terus berlanjut hingga sekarang. Selain itu, memang karena internasional brand based-nya ada di Jakarta. Dan kami sudah punya network yang baik dengan mereka.

Pernahkah Bapak menggeluti bisnis lain?

Pernah. Pada tahun 2012 sampai 2014-2015 saya membantu di bidang marketing di Grup Pakuwon residential dan high rise. Tetapi setelah itu, saya kembali fokus untuk meng-handle mall-mall yang ada di bawah Pakuwon Group.

Apa perbedaan dari kedua bisnis tersebut?

Beda tantangannya. Kalau di marketing atau penjualan, tidak ada istilah bina hubungan terlalu lama. Kita hanya ketemu, lalu menjelaskan produk, kemudian jika kita bisa meyakinkan selanjutnya akan terjadi transaksi. Setelah itu selesai. Memang beberapa ada yang berlanjut menjadi kawan. Tetapi kalau dalam arti bisnisnya, saya tidak berkelanjutan. Karena selanjutnya yang me-maintenance adalah sales marketing. Sales yang akan terus berhubungan dengan klien. Mereka yang akan membina hubungan supaya suatu saat ketika ada produk baru bisa ditawarkan. Tetapi kalau di mall, kami deal dengan satu tenant, kami dari lima belas tahun yang lalu sampai saat ini, kami deal dengan orang yang sama. Oleh karena itu, kami sudah memiliki satu ikatan yang kuat. Karena kami selalu bertemu dengan orang yang sama. Jadi, hubungannya itu lebih bonding.

Sudah berapa mall yang telah Bapak handle?

Kebetulan selama ini dan hampir seluruh proyek yang kami jalankan di Pakuwon Group, sampai hari ini ada lima mall di Surabaya. Dan semuanya, tingkat okupansinya di atas 94 persen sampai saat ini. 

Bagaimana cerita suka dan duka menjalani bisnis ini?

Lebih banyak sukanya, ya. Karena di Pakuwon Group sudah sangat dikenal oleh para riteler. Selain itu, kepercayaan kami sangat tinggi. Sehingga tidak sulit untuk meyakinkan ketika ada proyek baru. Kalau dukanya, mungkin ketika dalam kondisi ada yang harus direnovasi dan kita harus memindahkan tenant. Mungkin itu adalah hal yang tidak enak yang harus kita sampaikan. Tetapi sejauh ini, dapat diterima dengan baik oleh tenant. Karena memang untuk kebaikan mall secara keseluruhan.

Bagaimana pendapat Bapak mengenai bisnis mall di Surabaya?

Bisnis mall di Surabaya sangat baik dan sangat positif. Di Surabaya, banyak mall yang mempunyai keunikannya masing-masing. Mereka juga mempunyai target market yang berbeda. Saya berharap semua mall di Surabaya telah tergabung di Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI). Dan saya berharap, semua mall memiliki target market masing-masing dan ramai. Tidak boleh ada mall yang sepi. Kita semua di asosiasi adalah kawan, meskipun secara tidak langsung berkompetisi. Jadi competition harus dijalankan dengan baik. Sampai bulan April kemarin, riteler di Surabaya mengalami pertumbuhan yang signifikan. Artinya ada pertumbuhan yang bagus.

Selain bisnis, kegiatan apa yang Bapak sukai?

Kuliner dan travelling. Saya suka makan makanan apa saja. Seperti japanese food dan indonesian food, itu favorit saya. Kadang-kadang saya dengan teman-teman sedikit patungan untuk membuat kuliner-kuliner. Tetapi karena kesibukan masing-masing, akhirnya kami hanya bisa pasif. Kalau travelling, saya lebih sering ke luar negeri. Wah, saya nggak ngitung sudah ke mana saja. 

Apakah ada alasan khusus terjun di bisnis mall? Dan apa rencana Bapak ke depan?

Ya memang suka dengan mall. Jadi memang kalau sudah suka tidak perlu disuruh pun kita akan melakukannya. Seperti ketika setiap hari Sabtu dan Minggu kita ke mall. Makanya, hidupnya mall kan di dua hari tersebut. Oleh karena itu, di dalam dua hari tersebut, mall mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Masyarakat Surabaya liburannya kalau tidak keluar kota, kan ya ke mall saja. Sudah tua sekarang. Saya nggak aneh-aneh. Mengalir saja sekarang menikmati yang ada. (*/opi)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia