Minggu, 16 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Arie Soeripan

Perempuan Masa Kini Harus Bijak

21 April 2018, 13: 33: 48 WIB | editor : Wijayanto

Arie Soeripan

Arie Soeripan (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Menjadi Kartini masa kini tentunya banyak tantangan yang dihadapi. Namun, bukan berarti itu membuat pesimistis dan menghentikan langkah untuk maju dan melakukan yang bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang dilakukan oleh pengusaha sekaligus aktivis Arie Soeripan. Kepada Radar Surabaya Arie menceritakan kisahnya.

Apa saja aktivitas Ibu sekarang?
Untuk saat ini saya menjabat sebagai Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkona (GRANAT) Jawa Timur. Selain itu saya juga menjabat sebagai Ketua Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) Jawa Timur, Ketua Komunitas Berbagi dan Peduli, dan aktif di beberapa organisasi yang saya pimpin. Selain itu saya juga bisnis. Masa organisasi-organisasi terus, karena dari bisnis itulah saya bisa menghidupi organisasi-organisasi saya.

Bagaimana awal Ibu berkecimpung di GRANAT?
Kalau di GRANAT sendiri kurang lebih sudah sekitar 13 tahun. Saya mulai organisasi ini dari nol. Mulai menjabat sebagai Ketua DPC GRANAT Kota Surabaya hingga kemudian menjabat sebagai Ketua DPD GRANAT Jawa Timur. Selain GRANAT, saya tentunya juga ikut beberapa organisasi lainnya. Saya tidak mau latah ikut organisasi. Daripada nama saya hanya ditulis di kepengurusan tapi tidak bisa berkontribusi secara nyata, lebih baik saya tidak ikut organisasi tersebut.

Apa yang pada akhirnya membuat Ibu jatuh cinta dengan GRANAT?
Untuk mengikuti organisasi, pasti saya harus tahu organisasi ini apa? Visi misi, maksud dan tujuannya apa. Saya juga harus melihat siapa ketua umumnya, dan ketua yang ada di Jawa Timur, termasuk pengurusnya siapa saja. Seperti yang sempat saya sampaikan tadi, saya tidak mau latah ikut organiasasi. Hanya ngalor ngidul nggak jelas, saya tidak mau. Kalau dalam hal itu, mohon maaf saya tidak punya waktu. Dan GRANAT, alhamdulillah tidak seperti itu. Banyak manfaat yang saya dapatkan. Satu, ada kepuasan batin tersendiri karena saya bisa memberikan informasi kepada seluruh lapisan masyarakat mengenai bahaya narkoba. Mulai dari penyalahgunaan dan peredaran gelap.

Bagaimana kalau di organisasi lainnya?
Di organisasi Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), tantangannya juga cukup berat sekali. Kita tahu bahwa Pemprov Jatim sampai dengan sekarang masih belum mengeluarkan peraturan daerah (perda) tentang rokok. Padahal di Surabaya yang notabene adalah bagian dari Jatim sudah mengeluarkan perda tersebut. Bahkan menjadi percontohan bagi daerah-daerah yang lain. Dan sebenarnya antara organisasi GRANAT dan WITT itu saling berkaitan dan juga selalu mendapat banyak tantangan. Sehingga itulah yang akhirnya membuat saya tertarik untuk bergabung di WITT. Karena saya bisa menginformasikan mengenai bahaya jenis-jenis barang yang mengandung zat adiktif.

Hari ini bertepatan dengan momen Hari Kartini. Bagaimana pendapat Ibu tentang momen tersebut?
Kartini dulu dan sekarang tentunya sudah berbeda. Kalau Kartini dulu selalu dipingit, ruang gerak dibatasi, pernikahan dini, dan dijodohkan, harus mengikuti orang tua. Kalau Kartini saat ini pastinya tidak begitu. Namun, yang harus saya garis bawahi, janganlah kita mengambil sisi negatifnya saja, tetapi positifnya. Karena saya yakin, tidak ada orang tua manapun yang akan menjerumuskan buah hatinya. Orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik. Saya rasa Kartini sekarang makin modern, makin banyak berkarir. Tapi prinsip saya, meski berkarir jangan sampai lupa akan kodratnya sebagai wanita. Apalagi kita sebagai orang timur, khususnya saya ini sebagai orang Jawa, tepatnya Tuban, sampai detik inipun masih memegang teguh budaya Jawa.

Lalu bagaimana tanggapan Ibu mengenai seorang wanita yang berkarir hingga melupakan kodratnya?
Itu namanya keblinger. Saya punya prinsip, walau mungkin dipandang kuno, bahkan terkesan ndeso dan kampungan. Secantik-cantiknya perempuan, sepintar-pintarnya perempuan, sekaya-kayanya perempuan, kita ini harus tetap mengabdi kepada suami. Karena saya berkeyakinan bahwa suami adalah imam dalam sebuah rumah tangga. Oleh karena itu lebih baik mencari suami dengan landasan agamanya kuat, berpendidikan dan berpenghasilan lebih dari kita. Dan yang lebih penting tidak boleh egois dan tentunya harus saling menghargai.

Menurut Ibu, Kartini sekarang itu seperti apa?
“Kartini” masa kini harus memiliki tingkah laku yang baik. Itu saya terapkan ke diri saya sendiri. Karena orang kalau sudah menghakimi buruk ke kita, kita susah meluruskannya. Kita berbuat baik saja belum tentu orang paham maksudnya, apalagi kalau berbuat jelek. Apalagi sekarang eranya media sosial, kitapun harus bijak dalam hal ini.

Terakhir, apa harapan Ibu terhadap masa depan Kartini-Kartini zaman sekarang?
Sebagai seorang wanita jangan pernah melupakan kodratnya, khususnya sebagai seorang ibu. Kita boleh sukses berkarir, tetapi apalah artinya kita sukses berkarir jika tidak diimbangi dengan sukses di rumah tangga. Karena rumah tangga itu merupakan penentu kita yang utama. Maka dari itu, hidup adalah pilihan, mau sukses dalam berkarir atau sukses dalam keluarga. Tentunya harus seimbang. Dan yang paling penting juga komunikasi. Sesibuk apapun, harus meluangkan waktu untuk keluarga. (cin/nur)

PEMBINAAN: Arie di tengah para pemain bola usia dini.

PEMBINAAN: Arie di tengah para pemain bola usia dini. (dok)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia