Selasa, 16 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Eka Putri Fadhila Moeljono

Kartini di Era Milenial Harus Cerdas dan Berjiwa Leadership

Sabtu, 21 Apr 2018 13:19 | editor : Wijayanto

Eka Putri Fadhila Molejono

Eka Putri Fadhila Molejono (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Sosok Raden Ajeng (RA) Kartini memberikan banyak inspirasi bagi kaum perempuan di Indonesia. Tak terkecuali dengan perempuan-perempuan di era milenial, Seperti Eka Putri Fadhila Moeljono, 19, yang kini duduk di bangku kuliah Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini. Seperti apa sosok Kartini bisa menginspirasi Dhila –panggilan karib Eka Putri Fadhila Moeljono ini?. Berikut wawancara wartawan Radar Surabaya, Lainin Nadziroh dengan Dhila.

Sekarang sudah kuliah ya. Pasti padat sekali aktivitasnya di kampus, ya?
Iya.  Sekarang lebih fokus dengan kegiatan kuliah di kampus. Sebab, memang banyak tugas, dan saya ingin selesai kuliah tepat waktu.

Sejak masih kecil, Dhila kan suka sekali dengan berbagai kegiatan dan menorehkan banyak prestasi. Dalam kondisi sekarang, tidak banyak perempuan yang mau berkiprah seperti itu. Bagaimana menurut Dhila sosok RA Kartini ini?
Saya melihat sosok RA Kartini ini sangat menginspirasi. Seperti saat ini, di masa milenial, perempuan harus bisa cerdas, bisa menjadi leader, dan bisa menginspirasi orang lain. Tentu saja, untuk bisa punya jiwa leadership itu, harus dilatih sejak dini.

Dilatih seperti apa?
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk melatih putra-putrinya. Mereka bisa dikenalkan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang sejak dini. Dengan begitu, maka anak-anak perempuan bisa tumbuh dengan mental yang kuat, dan bisa menjadi leader. Sebab, dia bakal memahami pemikiran banyak orang.

Mempunyai jiwa leadership kan bukan perkara mudah. Selama ini seperti apa yang dilakukan Dhila, saat dipercaya menjadi pemimpin? Misalnya saja saat masih memimpin grup drum band, atau pun saat mendapat kesempatan dalam acara kampus?
Menjadi pemimpin dalam grup drum band dengan saat berada di kampus, itu sangat berbeda. Kalau di drum band, biasanya kan hanya memimpin banyak orang yang bermain musik dengan berbagai jenis alat musik secara bersama dengan gerakan yang seragam dan atraktif. Kalau di kampus, kita harus memimpin orang dengan berbagai pemikiran yang berbeda.

Saat menghadapi pemikiran orang yang berbeda seperti itu, tips apa yang dilakukan Dhila ?
Jadi begini, saat menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi tertentu, biasanya banyak pemikiran yang berbeda. Ya sudah, itu hal biasa terjadi pro dan kontra. Jika seperti itu, maka kita harus mengambil kebijakan yang terbaik. Jika memang ada yang kontra, nanti kita tunjukkan ke dia, sebenarnya seperti apa permasalahannya.

Bagaimana jika yang kontra itu tidak terima?
Ya sudah tidak apa-apa. Yang terpenting kita bersikap yang bijak untuk kepentingan banyak orang. Kita tunjukkan yang benar seperti apa.

Saat ini sebagai mahasiswa yang duduk di bangku kuliah semester 2, apa saja prestasi yang sudah diraih Dhila?
Sekarang saya fokus untuk kuliah. Beberapa waktu lalu, saya menjadi Penuntut Umum Terbaik dalam Lomba Peradilan Semu di kampus.

Seperti apa itu Lomba Peradilan Semu?
Jadi di kampus ada simulasi sidang yang dilombakan. Satu grup ada 18 orang. Ada yang berperan sebagai jaksa, advokat, penuntut umum, saksi, dan lain-lain. Nah, itu dilombakan dan ada lima grup yang ikut lomba. Nah, saat itu saya dinobatkan sebagai Penuntut Umum Terbaik.

Di bidang studi, Dhila ke depannya ingin seperti apa?
Kalau saya, inginnya nanti bisa kuliah selesai tepat waktu. Lantas berkarir sebagai jaksa, dan melanjutkan kuliah S2 dan S3. Jadi inginnya seperti itu. Sekarang fokus kuliah dulu harus sungguh-sungguh. (*/nug)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia