Minggu, 16 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya

Kartini Harum Kiprahnya

21 April 2018, 06: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Ilustrasi Kartini

Ilustrasi Kartini (Grafis: Fajar)

Peranan perempuan dan laki-laki saat ini punya peluang yang sama. Kartini zaman sekarang memiliki kesempatan luas untuk untuk maju. Mulai berkarir di dunia swasta maupun di pemerintahan bahkan menjadi pejabat serta menduduki posisi strategis yang lain. 

Vega Dwi Arista/Radar Surabaya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan, sejajarnya peranan perempuan dan laki-laki sekarang merupakan kemajuan bagi Kartini saat ini. Peran laki-laki dalam pekerjaan bahkan bisa dipegang oleh perempuan. Namun demikian, Kartini masa kini jangan melupakan masalah domestik. 

“Saya bisa jadi wali kota. Banyak juga yang jadi anggota DPRD serta pekerjaan lain tapi ya tetap ingat kodratnya,” kata Tri Rismaharini, Jumat (20/4). 

Dia mengatakan, peran wanita dalam keluarga juga sangat vital. Merawat dan membantu belajar anak menjadi salah satu kewajiban dari perempuan yang sudah berkeluarga. 

“Saya gak bisa masak tetapi saya tutupi dengan kewajiban yang lain,” ujar ibu dua anak ini. 

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya ini menegaskan, Kartini milenial sekarang jangan sampai malu dengan pekerjaan domestik yang dilakukan. Meski bisa membayar pembantu atau asisten rumah tangga, tetapi peran seorang wanita terhadap keluarga sangatlah penting. 

“Peran perempuan sangat diidam-idamkan dalam keluarga,” tambah istri Djoko Saptoadji ini.

Kepedulian terhadap keluarga, akan mempengaruhi kedekatan keluarga. Seorang Kartini sekarang akan lebih baik dekat, fleksibel serta akomodasi untuk gampang komunikasi dengan keluarga. Jika melupakan keluarga maka korbannya adalah anak-anak. 

Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini berharap, Kartini di Indonesia bisa menjadi penyemangat kemajuan Indonesia. Tidak hanya sebagai ujung tombak tetapi juga bisa menjadi tempat bersandar untuk mengarahkan masa depan anak-anaknya menjadi lebih maju. 

“Perempuan harus jadi sandaran bagi keluarga untuk berbagi dan berkomunikasi,” terangnya. 

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Surabaya Ratih Retnowati menilai generasi milenial yang lahir di tahun 1980-2000 menjadi generasi muda yang pantas diperhitungkan. Ratih mengungkapkan, bahwa Kartini muda sudah pasti akan lebih dalam segala hal. Tingkat pendidikan, mobilitas, kosmopolitan dan pasti lebih skeptis karena mereka sudah lebih mengenal dunia luar melalui media teknologi. “Kartini sekarang lebih melek teknologi dibandingkan dulu. Itu jadi salah satu kelebihan,” kata Ratih Retnowati.

Dia menegaskan, dulu kartini hanya menginginkan eksistensinya di bidang pendidikan. Namun sekarang Kartini bisa menginginkan hal yang lebih. Kartini milenial sudah tidak lagi memperjuangkan eksistensinya di bidang pendidikan. Zaman sudah banyak memberikan perubahan positif bagi kaum perempuan. Di dalam komunitas manapun banyak Kartini yang sukses di bidangnya masing-masing.  “Kartini menjadi lebih tangguh dari masa ke masa,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, Kartini milenial harus tetap menghormati suami. Karena suami sudah merelakan istrinya berlaga di sektor publik tidak lagi menjadi kartini kolonial yang hanya berada di sektor domestik.

Ratih mengaku di tengah kesibukannya sebagai politisi sekaligus ibu rumah tangga, dirinya harus bisa membagi waktu dengan baik. Untuk suami dan anak serta tanggung jawab menjadi wakil rakyat untuk memperjuangkan aspirasi dari masyarakat di Surabaya. 

“Kartini milenial memiliki tanggung jawab yang besar di pundaknya,” ucap ibu tiga anak ini.  

Semangat perjuangan Kartini menghapuskan perbedaan gender kini memang terus digaungkan oleh genari-generasi selanjutnya. Tidak terkecuali dunia politik. Lambat laun banyak kaum hawa menghiasi kancah perpolitikan dari tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional. 

"Harus ada yang wakili dari perempuan. Karena kalau tidak perempuan siapa lagi yang menyuarakan perempuan. Siapa yang mewakili perempuan. Sekalipun laki memahami, tapi saya pikir perempuan lebih paham," ujar Khozanah Hidayati, anggota DPRD Jatim ini.

Ana, panggilan akrab Khozanah Hidayati menambahkan, peran perempuan di legislatif, menurutnya, sangatlah vital. Dirinya mencontohkan, seperti pembuatan rancangan peraturan daerah (raperda) perlindungan buruh. Perlu ada wakil perempuan yang menyuarakan suara buruh wanita. 

Karena, hanya mereka yang tahu kebutuhan dan bisa merasakan apa yang dialami. Misalkan ketika menstrusdi ada dispensasi, orang perempuan yang paling mengerti.  

Edukasi Masyarakat Melalui Dunia Kesehatan

Kartini adalah sesosok perempuan yang mau berkarya dan mampu meberikan cahaya untuk orang lain. Kiranya deskripsi ini layak diberikan kepada dokter spesialis anak dari Rumah Sakit dokter Soetomo Surabaya, Meta Hanindita. Wanita cantik kelahiran Bandung ini memilih untuk menjalankan profesi sebagai dokter anak karena kecintaannya terhadap anak juga pekerjaannya. 

“Menjadi dokter anak adalah cita-cita saya sejak kecil. Saya memang suka sekali dengan anak kecil. Saya juga terinspirasi dengan almarhum ayah saya yang juga seorang dokter spesialis anak. Buat saya, anak-anak adalah generasi penerus yang akan sangat berperan terhadap kemajuan bangsa. Children are our future. Saya percaya bahwa anak yang sehat akan membawa dunia menjadi lebih baik,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Kamis(19/4).

Menggeluti profesi sebagai dokter, Meta selalu berupaya untuk mengedukasi masyarakat utamanya di dunia kesehatan. Untuk itulah, tak hanya aktif di rumah sakit, ia juga kerap menuliskan berbagai ilmu yang ia ketahui lewat buku dan blog pribadinya. 

“Di era social media jamin sekarang, banyak informasi bersliweran yang belum tentu benar secara medis. Saya ingin sekali menyebarkan edukasi berdasar apa yang saya baca terbukti secara ilmiah kepada semua orang. Itulah salah satu alasan mengapa saya rajin menulis di blog dan menulis buku untuk awam. Harapannya, banyak orang yang menjadi teredukasi,” paparnya. (bae/is/rak/rud) 

(sb/vga/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia