Kamis, 13 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Gresik

Pengolahan Kompos Lebih Praktis Melalui Biopori

12 Februari 2018, 11: 09: 18 WIB | editor : Aries Wahyudianto

Sitri Fitriah saat membuang sampah organiknya ke dalam biopori sederhana di kediamannya di Giri, kemarin.

PRAKTIS: Sitri Fitriah saat membuang sampah organiknya ke dalam biopori sederhana di kediamannya di Giri, kemarin. (Esti/Radar Gresik)

KOTA-Satu lagi cara sederhana untuk mengelola sampah menjadi kompos, yakni melalui biopori. Selain memberikan manfaat dengan hasil kompos, biopori sebagai resapan merupakan pengelolaan tepat guna yang praktis.

Pegiat Lingkungan dan Pengelolaan Sampah Siti Fitriah mengatakan, dibandingkan dengan  pengelolaan kompos menggunakan tong  biopori lebih praktis. Sebab, diameternya kecil dan tak banyak berurusan dengan hewan tanah atau hewan pengurai sampah lainnya.

“Yang ingin saya sampaikan agar diketahui masyarakat bahwa sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga itu bisa mencapai 75 persen dibanding sampah anorganik,” kata Fitri-sapaan Siti Fitriah.

Selama ini biopori banyak dikenal masyarakat sebagai resapan. Padahal, biopori bisa sekaligus mengurai sampah organik. Biasanya, diameter biopori sebesar 13 centimeter dan kedalamannya maksimal 1 meter. “Jadi limbah organik seperti sisa makanan di masukkan dalam biopori, yang juga berfungsi sebagai resapan ini,” kata dia.  Kurang lebih satu  minggu sudah bisa diambil menjadi kompos. Sebab, hasilnya lebih mudah terurai, karena ada biota tanah seperti cacaing dan belatung yang mempercepat penguraian. Ia membandingkan, bila menggunakan tong, membutuhkan pengadukan berkala yang membuat pengaduknya mersakan bau menyengat, belum lagi yang jijik dengan belatung. “

Kalau dengan bipori ini tak perlu diaduk, karena sudah banyak bantuan pengurai dari makhluk hidup di dalamnya,” jelas dia.

Dengan pengelolaan yang  tepat maka  akan mendapatkan tiga bidang sekaligus. Seperti  bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Sehingga ada keuntungan yang sekaligus mengedukasi masyarakat agar bisa mengelola sampah dengan sederhana. “Secara sosial, kita bisa membuat masyarakat meminimalisir sampah, sebelum berpikir untuk menguranginya dengan pengelolaan,” lanjut dia.

Kampanye biopori plus sampah organik rumah tangga tepat guna ini, dikatakan Fitrimemberikan manfaat dengan hasil kompos, sumur resapan hingga memberdayakan masyarakat untuk memproduksi biopori sedniri dengan sederhana. Bahkan, biopori ini bisa dilakukan pada tempat yang terbatas seperti dilingkungan perkotaan. “Karena kecil dan tak membutuhkan banyak ruang, hanya tanah di sekitar rumah saja,” jelas dia.

Desa yang mengaplikasikannya adalah Desa Doudo, Kecamatan Panceng. Kepala Desa Doudo Asti Sifana  mengatakan di desanya penerapan biopori dan sampah organik biasanya untuk rumah tangga. Bahkan, warga bisa membuat biopori dengan semen dan pasir secara sederhana. Selain masyarakat diberdayakan untuk pembuatan biopori, juga bisa kembali menyuburkan tanamannya dengan hasil omposnya.  “Tidak ribet dan ternyata mudah diaplikasikan, sehingga msyarakat juga tak keberatan menerapkan,” papar dia.(est/han)

(sb/est/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia