Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo

Gagal Budidaya Puyuh, Sukses Budidaya Jamur

01 Januari 2018, 15: 56: 13 WIB | editor : Lambertus Hurek

mus purmadani/radar sidoarjo

mus purmadani/radar sidoarjo

Pernah gagal berternak burung puyuh tak membuat M Icksan patah semangat. Dengan jiwa wirausaha, pria 64 tahun memulai usaha dengan budidaya jamur tiram. 

MUS PURAMADANI

Wartawan Radar Sidoarjo

SEMUA orang pasti ingin berhasil. Demikian juga M Icksan. Tapi apa daya, tidak semua keinginan berjalan mulus. Usaha ternak burung puyuh yang digelutinya ternyata tidak membuahkan hasil sesuai skenarionya.

Penyebabnya adalah ‘badai’ flu burung. Beberapa burung puyuhnya terkena flu burung. Dalam waktu singkat, burung-burung yang lain pun ketularan. “Akhirnya ternak saya habis gara-gara kena flu burung itu,” ungkapnya.

Dari pengalaman itulah, ia mulai berpikir untuk merintis usaha baru yang memiliki risiko kecil. Lalu ia memutuskan untuk berbudidaya jamur tiram. Menurutnya, selain ramah lingkungan, perawatan jamur ini tidak sulit.

“Sejak tahun 2011 saya memulai budidaya jamur tiram ini. Lahannya juga tidak membutuhkan tempat yang luas,” lanjutnya.

Memanfaatkan sedikit lahan kosong di belakang rumahnya di Desa Keboansikep, Kecamatan Gedangan, bapak dua anak ini memulai budidaya. Ia awalnya hanya memiliki 100 baglog (media tanam). Dengan semakin berkembangnya usaha ini, sekarang M Icksan telah memiliki 3.500 baglog yang tertata rapi di sebuah rak. 

Diungkapkan, dalam sehari ia bisa panen antara 5 hingga 7 kilogram. Tapi kalau pas sedang panen raya hasilnya bisa 15 hingga 20 kilogram. “Jadi ada waktu di mana jamur-jamur ini tumbuh bareng. Setiap kilogramnya saya jual Rp 17 ribu,” tambahnya.

Dipaparkan pula, budidaya jamur tiram, setiap hari adalah masa panen. Alasannya, karena berkembangnya sangat cepat, jamur tiram harus dipanen setiap hari. Bahkan kadang bisa dipanen pada pagi dan sore. 

M Icksan menjelaskan satu bibit jamur tiram itu akan terus panen hingga empat bulan. Dengan begitu, modal usaha cepat kembali. “Rata-rata (modal) akan kembali atau impas pada dua bulan pertama budidaya,” ujarnya. (*/jee)

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia