Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo

30 Orang Tertipu Penjualan Rumah Abal-Abal

27 November 2017, 09: 00: 59 WIB | editor : Lambertus Hurek

Brosur perumahan yang diduga abal-abal.

Brosur perumahan yang diduga abal-abal. (DOK)

Modus penipuan dengan kedok penjualan unit perumahan berhasil dibongkar Satreskrim Polresta Sidoarjo. Polisi juga mengamankan satu tersangka, yakni Mongoloi M Sialagan, 39, warga Perumahan Istana Mentari, Desa Cemekalang, Kecamatan Sidoarjo. Tersangka diduga telah menipu sekitar 30 orang dengan cara yang sama, yakni melalui penjualan rumah fiktif.

“Tersangka ditangkap pada 21 November 2017 lalu di rumahnya setelah salah satu korban Suyatni melaporkan menjadi korban penipuan,” ujar Kasatreskrim Polresta Sidoarjo Kompol Muhammad Harris, Minggu (26/11).

Saat menjalankan aksinya, modus tersangka sangat rapi. 

Ia menggunakan berbagai trik, salah satunya mencetak brosur perumahan dan membuat site plan palsu untuk membuat korbannya percaya.

Tersangka yang merupakan mantan marketing salah satu perumahan di Sidoarjo ini juga merekayasa seluruh perumahan yang ditawarkan. Misalnya, ia membuat PT Suksesindo Putra Mandiri dan menyewa kantor di ruko The Garden, Perumahan Kahuripan Nirwana Village, Desa Jati Sidoarjo selama dua tahun. Di sinilah ia mulai mencetak brosur perumahan di tiga lokasi, yaitu Candi Negoro Sukodono Regency, Lentera Agung, Desa Jambangan, Candi, satu lagi di Taman Dayu, Pasuruan.

“Brosur perumahan ini dicetak sendiri. Agar nampak seperti kantor pemasaran, ia merekrut tiga karyawan,” lanjut Muhammad Harris.

Setelah itu, tersangka memasarkan perumahan abal-abalnya tersebut melalui jejaring sosial hingga toko online. Karena harga yang ditawarkan lebih murah, banyak orang yang tertarik. “Tipe 38 ia jual seharga Rp 180 juta, padahal tipe ini di pasaran sekitar Rp 250 juta ke atas,” katanya.

Nah, terungkapnya penipuan ini setelah ada salah satu korban bernama Suyatni melaporkan telah tertipu. Ia membeli rumah tipe 38 di Perumahan Lentera Agung. Korban telah melihat tanah yang hendak dibangun dan percaya. Sebab saat itu ia melihat memang ada pembangunan perumahan, padahal perumahan itu bukan melainkan tersangka melainkan milik pengembang lain.

Suyatni yang percaya akhirnya menyetor uang Rp 5 juta sebagai tanda jadi. Kemudian secara berkala ia menyetor uang Rp 20 juta dan Rp 55 juta. Setelah membayar ini korban meminta tersangka segera melakukan pembangunan unit yang sudah dipilihnya berdasarkan site plan. 

“Pertama kali dilihat rumah korban belum dibangun. Tersangka janji satu bulan kemudian, namun tetap saja belum dibangun. Hingga akhirnya korban merasa ditipu dan melaporkan ke kami,” katanya.

Saat ditangkap tersangka mengakui jika perumahan yang ditawarkannya ke korban abal-abal. Tanah tiga perumahan yang ditawarkan ke pelanggan bukan miliknya. Kantor yang disewanya juga sudah ditutup sejak Juni 2016 lalu setelah berhasil memperdayai hingga 30 orang. 

“Saat ini masih empat yang melapor. Kami juga masih menjumlah berapa uang yang berhasil dikumpulkan tersangka,” tambah Muhammad Haris.

Mantan Kapolsek Simokerto, Surabaya melanjutkan tersangka sengaja menipu untuk mengeruk keuntungan. Cara ini didapatnya saat ia bekerja sebagai marketing perumahan, sehingga cara kerjanya rapi dan bisa meyakinkan orang lain. (gun/jee) 

(sb/gun/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia