Kamis, 13 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Hampir Dibuang Orang Tua, Bang Dzoel Fotografer Difabel Beri Motifasi

28 Oktober 2017, 19: 14: 01 WIB | editor : Abdul Rozack

BERBAGI ILMU: Fotografer penyandang disabilitas, Dzulkarnain (kiri) menunjukkan cara memotret kepada para siswa SMK Dr Soetomo, di aula SMK Dr Soetomo

BERBAGI ILMU: Fotografer penyandang disabilitas, Dzulkarnain (kiri) menunjukkan cara memotret kepada para siswa SMK Dr Soetomo, di aula SMK Dr Soetomo. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA-Lahir dalam kondisi yang memiliki keterbatasan secara fisik bukanlah menjadi petaka bagi Achmad Zulkarnain. Meskipun lahir tanpa tangan dan kaki yang sempurna, ia mampu bangkit dan menorehkan prestasi yang membanggakan dalam dunia fotografi.

Pria yang akrab dipanggil Bang Dzoel tersebut mengaku baru mendalami dunia fotografi dalam tiga tahun terakhir. “Sebelum masuk ke dunia seni melukis cahaya ini, saya telah mendalami dunia seni musik dan skateboard. Tetapi dalam dunia fotografi saya menemukan passion yang membuat saya nyaman,” ungkap pria asli Banyuwangi, Jumat (27/10).

Bang Dzoel mengatakan dirinya sempat mendapatkan perlakuan diskriminatif bukan hanya dari masyarakat, tetapi juga oleh kedua orang tuanya sendiri. “Banyak orang yang memandang sebelah mata kaum difabel seperti saya. Bahkan kedua orang tua sendiri pernah berniat membuang saya. Tapi sedikitpun tidak pernah ada rasa dendam dalam diri saya,” ungkap penerima beasiswa di Darwis Triadi School of Photgraphy itu.

Lebih lanjut ia ingin dianggap normal sama seperti halnya manusia yang lain. Bahkan dia memiliki prinsip, I am forget that I am difable. “Saya dan kalian semua sama. Jika kalian dapat berkarya, begitu juga dengan saya,” tuturnya ketika memberikan materi dalam Workshop Siswa Iso Motret yang diselenggarakan di SMK Dr. Soetomo kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, Bang Dzoel menceritakan pengalamannya sebagai tukang foto Kartu Tanda Penduduk (KTP). Sejak saat itulah minatnya dalam dunia fotografi mulai tumbuh. Bahkan dia nekat membeli kamera dengan ara kredit. 

“Kamera pertama saya adalah Canon 1100 D. Saya belajar otodidak, adaptasi dalam menggunakannya pun tidak mudah, karena kameranya cukup berat,” kata pria 25 tahun itu. Dzoel tak lupa menitipkan harapannya pada fotografer pemula agar tidak menjadikan sebuah keterbatasan sebagai alasan untuk berkarya. 

(sb/mif/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia