Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Mencari Keberadaan Makam Sarip Tambak Oso

16 Agustus 2017, 09: 02: 56 WIB | editor : Lambertus Hurek

CARI DATA: Para seniman saat berada di makam sesepuh Sarip Tambak Oso di Desa Tambak Oso.

CARI DATA: Para seniman saat berada di makam sesepuh Sarip Tambak Oso di Desa Tambak Oso. (NOVELA ANGGRAENI/RADAR SIDOARJO)

Puluhan seniman Sidoarjo melakukan perjalanan untuk mencari jejak perjuangan Sarip Tambak Oso. Cara pertama yang mereka lakukan yakni menemukan makam. Didit Suhadi, salah satu penggiat teater, berkesempatan mengikuti perjalanan merealisasikan hal tersebut.

NOVELA ANGGRAENI

Wartawan Radar Sidoarjo

RANGKAIAN kegiatan tersebut berlangsung Minggu (13/8) lalu. Berbekal buku cerita sejarah dan ingatan, mereka mencoba menelusuri jejak perjalanan hidup Sarip Tambak Oso untuk menemukan tempat pemakamannya. Mereka juga berusaha menemukan saksi hidup yang secara langsung maupun tidak langsung mengetahui kisah Sarip. 

“Kita pertama datang di Bok Legi (toko buku, Red), tempat kita cangkrukan, untuk mengenang Sarip,” ucapnya. 

Dari situ ia bersama teman-temannya berlanjut ke lembaga pemasyarakatan (lapas) Sidoarjo yang diyakini tempat eksekusi Sarip. Berdasar cerita, tubuh Sarip dimutilasi oleh penjajah Belanda menjadi tiga bagian, kepala, badan, dan kaki. Setelah itu mereka berlanjut ke jembatan layang Buduran (Jenggolo), tempat yang diyakini sebagai tempat kepala Sarip dikubur, lalu ke Desa Tambak Oso yang diyakini badan Sarip ada di sana. 

Terakhir, mereka berkumpul di Desa Kwadengan, Lemahputro yang diyakini sebagai tempat dikuburkannya kepala Sarip. “Kami mengumpulkan segenggam tanah di tiap tempat tersebut. Kami kumpulkan ibarat mengumpulkan bagian badan yang sudah termutilasi ke satu tempat,” ucap laki-laki kelahiran 12 Februari 1962 itu. 

Didit mengaku, kegiatan tersebut masih jauh dari kelayakan untuk bisa mengesahkan tempat pemakaman Sarip. Karenanya mereka terus berupaya menemukan makam yang berdasar dari secuil cerita masyarakat sekitar Desa Tambak Oso, bahwa makam Sarip sudah ada di satu tempat. “Sebagian kami berpendapat makam sesepuh Sarip yang di Tambak Oso itu bisa jadi makam Sarip,” lanjutnya.

Dijelaskan, penemuan makam Sarip Tambak Oso sangat penting. Ini untuk membuktikan bahwa Sarip bukanlah hanya sekadar dongeng atau cerita rakyat biasa. Namun perjuangan melawan penjajah Belanda merupakan peristiwa nyata di masa lalu. 

Sama seperti teman-temannya, Didit menyakini tokoh Sarip benar-benar ada. “Salah satu teman kita ada yang bercerita jika ia melihat saat mayat Sarip digotong, ini yang jadi motivasi kita untuk menemukan makamnya,” tandasnya. (*/jee) 

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia