Senin, 10 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Persida U-17 Tumbang karena Kurang Persiapan

Kompetisi Piala Suratin 2017

15 Agustus 2017, 08: 59: 14 WIB | editor : Lambertus Hurek

BERJUANG: Persida U-17 saat melakukan uji coba lawan tim internal sebelum kompetisi dimulai di lapangan BCF.

BERJUANG: Persida U-17 saat melakukan uji coba lawan tim internal sebelum kompetisi dimulai di lapangan BCF. (NOVELA/RADAR SIDOARJO)

OTA – Kalau tahun lalu Persida U-17 sukses menjadi juara Piala Suratin Zona Jawa Timur, tahun ini anak-anak muda Laskar Jenggolo itu terhenti di babak kedua. Ironisnya, Persida U-17 kalah tiga kali di markasnya, Stadion Jenggolo Sidoarjo. 

Persida masuk Grup M bersama Persekap Kota Pasuruan, Persikoba Batu, dan PSIL Lumajang. Persida berada di posisi buncit dengan poin nol alias kalah di tiga laga. Tim asuhan pelatih Puji Daryo itu hanya berhasil memasukan satu gol dan kemasukan lima gol. 

Persiapan yang minim menjadi salah satu faktor utama tumbangnya sang juara bertahan di kompetisi Liga Remaja ini. Pelatih Puji Daryo mengatakan, motivasi anak-anak asuhnya ternyata menurun dibanding saat babak pertama. Itu jelas terlihat saat laga pertama di Stadion Jenggolo melawan Persikoba Batu. Mental bertanding anak-anak langsung terjun bebas saat lawan berhasil membobol gawang pertama kali. 

Puji membantah anggapan bahwa materi pemain Persida tahun ini lebih jelek ketimbang tahun lalu. Menurut dia, secara materi, teknik, maupun taktik tidak berbeda jauh dengan tiga tim lawan di Grup M. Namun, persiapan yang singkat dibanding tim lain cukup berpengaruh. “Secara apa pun kita siap. Tapi nyatanya tim-tim lawan jauh lebih siap dibanding kita,” ungkapnya.

Kegagalan di Liga Remaja U-17 memberi pelajaran berharga. Khususnya persiapan harus lebih panjang untuk menghadapi Piala Suratin. “Seperti Asifa (Jombang), pembinaan mereka sudah dari usia dini, kemudian berkembang sampai sekarang. Semoga Persida ke depan bisa lebih lama dan matang dalam melakukan persiapan,” ucapnya. 

Sebenarnya menjadi tuan rumah kompetisi tingkat Jatim ini bisa mengangkat semangat tim. Eh, ternyata justru permainan anak-anak kurang lepas dan seolah ada tekanan ketika bermain di depan pendukung dan keluarganya. Meski begitu, Puji mengapresiasi anak-anak asuhnya yang terus memberikan permainan terbaik sampai laga terakhir. “Saya bangga dengan mereka,” tandasnya. (nov/rek)

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia