Sabtu, 20 Oct 2018
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Sekolah Perempuan Semakin Diminati Ibu-Ibu

Senin, 31 Jul 2017 11:25 | editor : Aries Wahyudianto

ULET : Meski sempat dipandang sebelah mata KPS2K terus berusaha menghidupkan sekolah perempuan.

ULET : Meski sempat dipandang sebelah mata KPS2K terus berusaha menghidupkan sekolah perempuan. (Yudi/Radar Gresik)

Saat awal pendirian sekolah perempuan banyak yang mencibir. Sebab, sekolah tersebut dianggap tidak penting karena hanya mengajarkan ilmu kehidupan sehari-hari. Namun, berkat ketekunan anggota Kelompok Perempuan dan Sumber-sumber Kehidupan (KPS2K), sekolah tersebut kini makin dilirik.

Iva Hasanah, 42 mengaku, sempat dipandang sebelah mata oleh pihak desa. Pasalnya, kehadiran Kelompok Perempuan dan Sumber-sumber Kehidupan (KPS2K) ke desa tak membawa duit. “Iya, dulu waktu awal-awal sempat dijustifikasi sama Kadesnya (kepala desa) begini, nggak bakalan bisa mengumpulkan perempuan-perempuan miskin kalau tidak bawa uang,” kenangnya.

Namun, Iva nama akbrabnya, tetap berupaya dengan maksimal, bahkan blak-blakan menyampaikan kepada para ibu miskin. Yaitu, pertemuan yang diprakarsai tidak ada uang saku. Bersamaan itu, pihaknya menegaskan bahwa hasil dari sekolah perempuan adalah pengetahuan. Seperti wawasan tentang kesehatan para perempuan, persoalan rumah tangga, hingga urusan merawat anak. “Waktu pertemuan pertama, hampir 90 persen dari yang kami ajak akhirnya datang,” tutur Direktur KPS2K Jatim.

Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya jumlah ibu-ibu yang hadir semakin berkurang. Satu per satu di antara mereka mulai tidak masuk. Usut punya usut, kata dia, banyak faktor sehingga jumlah peserta sekolah perempuan kian merosot. Selain karena sibuk dengan urusan rumah tangga, sebagian diantara mereka justru mendapat larangan dari suami.

 “Kendala sekolah perempuan, karena (materi) menyinggung persoalan hak-hak mereka. Jadi, seakan mereka dibenturkan dengan permasalahan sendiri dan mereka juga harus belajar berdasarkan pengalaman masing-masing. Misalkan terkait program poligami, akhirnya mereka nggak sekolah lagi karena dilarang oleh suaminya,” jelas perempuan asal Sidoarjo tersebut.

Namun, kini peminat sekolah perempuan sudah sangat tinggi. Beberapa lembaga ekonomi juga mulai didirikan. Antara lainnya meliputi bank sampah, sanggar kesenian, pertanian berkelanjutan dan seputar dunia koperasi. “Intinya memang harus ulet, walaupun tetap ada saja yang berhenti dan datang lagi. Memang waktu awal-awal pada tahun 2014 masih sangat sedikit peminat, tapi sekarang sudah mulai berjalan rutin di beberapa wilayah selatan. Kami juga bekerjasama dengan Pemkab Gresik,” pungkasnya. (yud/rof)

(sb/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia