Senin, 24 Sep 2018
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Pasang Jaring untuk Lokalisir Sampah Sungai

Rabu, 26 Jul 2017 09:01 | editor : Lambertus Hurek

FILTER: Salah satu jaring di Sungai Jumput Rejo yang dipasang DPUPR Sidoarjo. Pemasangan ini untuk melokalisir sampah sungai.

FILTER: Salah satu jaring di Sungai Jumput Rejo yang dipasang DPUPR Sidoarjo. Pemasangan ini untuk melokalisir sampah sungai. (SURYANTO/RADAR SIDOARJO)

SUKODONO – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) melakukan bersih-bersih sungai yakni di Desa Jemputrejo dan di sungai Mangetan Kanal di Gedangan. Pembersihan sampah dari sungai tersebut merupakan agenda rutin dua minggu sekali dari DPUPR. 

Kegiatan itu juga untuk menyambut program Sidoarjo Peduli Sungai (SPS). Dimana program SPS mendorong masyarakat dan semua elemen untuk peduli akan kebersihan sungai. 

Sedangkan untuk melokalisir sampah sungai, pihaknya juga memasang jaring sampah sementara yang terbentuk dari bambu. 

Kadis PUPR, Sigit Setyawan mengatakan volume sampah yang tinggi di dua sungai tersebut, menjadikannya harus menggunakan alat berat untuk menjaringnya. 

Kegiatan tersebut sudah berlangsung minggu lalu dan terus berlanjut. Sedang kegiatan normalisasi sungai baru bisa dilakukan September ini. 

“Sekarang ini, anggaran untuk itu (normalisasi) belum turun,” kata Sigit Setyawan, Selasa (25/7). 

Sampah yang menumpuk pun menjadi terlihat lebih parah karena beberapa faktor. Pertama, sungai memang sudah lama tidak dinormalisasi. Kedua, tinggi jembatan dinilai masih rendah, sehingga jarak antara jembatan dengan permukaan volume sungai tipis. Ketiga, lebar sungai mulai menyempit karena pembangunan yang terlalu maju. 

“Kita pasang jaring bambu sepanjang lima sampai enam meter, untuk lokalisir sampah,” imbuhnya.

Hal tersebut juga berlaku di sungai Mangetan Kanal, perempatan Gedangan. Pasalnya masyarakat berdalih adanya sampah tersebut merupakan sampah kiriman, alias bukan berasal dari warga sekitar. 

Dengan adanya jaring tersebut, Sigit bisa menilai apakah sampah memang berasal dari kiriman atau justru berasal dari masyarakat di sekitar yang dengan sengaja membuang sampah disana. 

“Kita lihat, apabila ada sampah dalam seminggu kedepan, artinya sampah tersebut bukan kiriman. Tapi dari masyarakatnya yang kurang peduli sampah,” pungkasnya. (nov/rud)

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia