Radar Surabaya

Komisi D Temukan Siswa Putus Sekolah di Surabaya

SURABAYA - Kekhawatiran siswa drop out bakal meningkat pasca beralihnya kewenangan pengelolaan SMA/SMK dari pemkot Surabaya ke provinsi Jawa Timur tampaknya mulai terbukti. Hal tersebut ditemukan oleh Reni Astuti, anggota Komisi D DPRD Surabaya saat melakukan reses

Politisi asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan bahwa saat menggelar reses di kawasan eks lokalisasi Putat Jaya, dirinya menemukan ada tiga siswa SMA/SMK yang putus sekolah. “Itu hanya di satu RT, ada tiga anak putus sekolah sejak Januari lalu. Mereka kebetulan sekolah di swasta,” ungkap Reni kepada Radar Surabaya, Rabu (12/4).

Menurut dia, komisinya yang membidangi pendidikan memperkirakan jumlah siswa tingkat SMA/SMK yang putus sekolah di Surabaya pasca peralihan pengelolaan dari pemerintah kota ke pemprov Jatim akan terus bertambah. Pasalnya, kata dia, kondisi tersebut terjadi karena selama ini untuk jenjang SMA/SMK mendapatkan bantuan operasional pendidikan daerah (Bopda) dari pemkot Surabaya.

Setelah pengelolaan beralih, tak ada lagi bantuan pendidikan dari pemprov Jatim. “Karena tak ada bantuan lagi, baik dari pemkot dan pemprov, maka beban anggaran dikembalikan lagi ke siswa,” paparnya. Hal inilah yang membuat beban siswa terutama pihak orang tua menjadi lebih berat.

Legislator dari daerah pemilihan (dapil) 4 Surabaya itu mengakui, selama ini masih ada beberapa SMA/SMK, terutama swasta, yang mengandalkan dana BOS dan Bopda untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. Hal itu terjadi karena pendanaan di sekolah tersebut yang terbatas.

Ia menuturkan, sebenarnya ada dua penyebab meningkatnya angka anak putus sekolah. Pertama, berkaitan dengan motivasi. Kemudian kedua, karena ketiadaan pendanaan yang ini sifatnya mutlak.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar